Malang, Blok-a.com – Bagi para perantau, Kota Malang yang dikenal sebagai kota pelajar ternyata menyuguhkan kejutan tersendiri dalam hal biaya hidup. Dari mahasiswa yang berasal dari kota metropolitan hingga pemuda dari kota tetangga, pengalaman mereka menunjukkan bahwa Malang memiliki dua sisi mata uang dalam urusan harga: ada yang merasa lebih hemat, ada pula yang mulai kewalahan menyesuaikan diri dengan perubahan biaya hidup.
Surga Makanan Murah bagi Anak Rantau dari Kota Besar
Bagi mahasiswa rantau yang datang dari kota metropolitan dengan biaya hidup tinggi, Malang terasa seperti surga dalam urusan makanan.
Eco, mahasiswa UIN Malang asal Bekasi, merasakan perbedaan harga yang sangat signifikan antara kampung halamannya dan kota tempatnya kuliah sekarang.
“Jauh berbeda, contohnya saya beli sempol Rp10.000. Kalau di Jakarta mungkin cuma dapat 10, di sini bisa dapat 15. Bahkan ada yang harganya gopean (Rp500), saya kaget juga,” ungkapnya.
Dengan anggaran Rp100.000 hingga Rp200.000, Eco mengaku masih bisa bertahan selama seminggu di Malang. Sementara di Bekasi, uang sebesar itu hanya cukup untuk dua hingga tiga hari.
Meski begitu, ia mencatat bahwa pengeluaran untuk kafe dan restoran tidak jauh berbeda, hanya selisih Rp1.000–Rp2.000. Hal ini menunjukkan bahwa segmen hiburan dan gaya hidup modern cenderung memiliki harga yang stabil di mana pun.
Bagi Perantau dari Indonesia Timur, Malang Termasuk Ramah di Kantong
Bagi perantau dari luar Jawa, perbandingan harga justru terasa lebih ringan.
Virna, mahasiswi UIN Malang asal Jayapura, Papua, menilai biaya hidup di Malang masih terbilang stabil, bahkan setelah beberapa tahun menetap.
“Kalau menurutku sih nggak terlalu terasa, ya. Mungkin karena dari awal aku ke Malang udah terbiasa hidup dengan gaya yang sama. Kalau dibandingkan dengan kota lain malah masih lebih murah,” katanya.
Virna menambahkan, seringnya promo dan diskon di Malang juga membantu menekan pengeluaran harian, terutama untuk kebutuhan pokok. Di kampung halamannya, ia mengaku harga bahan makanan bisa dua kali lipat, dan jarang ada potongan harga seperti di kota pelajar ini.
Selain itu, ia juga merasakan perbedaan mencolok pada biaya hiburan.
“Bioskop tetap ada di Jayapura, cuma berapa tiketnya? Bisa sampai seratus ribu kalau weekend, senin sampai jumat paling murah lima puluh ribu. Jadi aku sering ke bioskop pas di Malang ini. Di Dinoyo paling murah sekitar dua puluh ribu aja,” tuturnya sambil tersenyum.
Bagi Virna, Malang bukan hanya lebih murah secara kebutuhan pokok, tapi juga menawarkan ruang hiburan yang lebih terjangkau bagi mahasiswa.
Makanan Berat Murah, Jajanan Justru Mahal
Berbeda dengan Eco dan Virna, Arul, perantau asal Jember yang sudah delapan tahun menetap, melihat dinamika harga dari perspektif unik. Menurutnya, di Kota Malang harga makanan berat seperti nasi campur atau lalapan lebih murah dibandingkan Jember, tetapi makanan ringan dan minuman justru lebih mahal.
“Banyaknya mahasiswa bikin penjual di Malang bersaing harga dan kualitas. Tapi kalau gorengan, di sini rata-rata seribu, di Jember masih banyak yang lima ratusan. Minuman rasa juga di Jember banyak yang lima ribuan, teh gelas aja kadang dua ribu lima ratus,” jelasnya.
Arul menyimpulkan bahwa hidup hemat di Malang berarti harus cerdas memilah, makan berat di warung, tapi batasi jajan minuman dan camilan.
Selain makanan, biaya transportasi menjadi faktor penting bagi para perantau. Arul menceritakan bahwa harga tiket bus Malang–Jember kini naik signifikan dari Rp45.000–Rp50.000 sebelum pandemi menjadi sekitar Rp80.000, dan “sudah tidak ada lagi harga lima puluh ribuan.”
Meski begitu, Malang tetap menjadi kota pilihan bagi Arul dan banyak perantau lainnya. Populasi mahasiswa yang melimpah menciptakan banyak peluang usaha dan pasar yang dinamis.
“Di Jember kan gak sebanyak ini, jadi harga di sana malah lebih mahal. Di Malang banyak mahasiswa, jadi saingannya juga banyak,” ujarnya.
Bagi Arul, Kota Malang menawarkan peluang bagi mereka yang ingin berkembang, beradaptasi dan bekerja keras. (mg2)
Penulis: Muhammad Naufal Abiyyu (mahasiswa magang UTM Bangkalan)




