Kota Malang, blok-a.com – Sejumlah konsep kopi di Kota Malang dinilai mulai mengalami kemunduran. Selain faktor perubahan gaya hidup yang mengarah pada tren sehat dan olahraga, kenaikan harga bahan baku juga disebut menjadi penyebab utama.
Pegiat kopi di Kota Malang, Dana Helmi, mencontohkan konsep kopi dingklik dan kopi tiam kini semakin jarang ditemui. Menurutnya, konsep kopi yang identik dengan rasa manis dan penggunaan susu kental manis serta mentega tersebut kurang sejalan dengan kultur konsumen saat ini.
“Kopi tiam itu sebenarnya yang enak itu manisnya, cuman itu akan buruk di saat orang-orang udah melek kesehatan. Konsumen sekarang banyak yang mempertimbangkan kadar gula, mentega, skm, dan tingginya lemak,” ujar Dana, Senin (16/2/2026).
Kondisi tersebut, kata dia, meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap asupan gula dan lemak membuat kopi dengan campuran berat semakin ditinggalkan. Konsumen mulai mencari opsi minuman yang lebih sederhana tanpa tambahan bahan lain.
Menurutnya, sejumlah kedai kopi mulai membaca perubahan tersebut. Ia mencontohkan beberapa tempat, tengah menyiapkan konsep slow bar untuk menyasar pelari pagi dan mengedukasi konsumsi kopi tanpa tambahan gula maupun susu.
“Bento Plus itu sekarang lagi riset buat mau bikin slow bar untuk menyambut mereka pelari pagi. Nanti mereka akan diedukasi ‘kamu kalau lari pagi minume kopi ini, jangan ada tambahan susu, ada tambahan sirup, gula, nggak boleh, pure aja.’ Cuman kan opsinya banyak nih. Mungkin 2027 kalau olahraga wis kenceng balik lagi nih ke manual brew malah,” terangnya.
Selain kopi tiam, Dana juga menyoroti kopi dingklik yang sempat ramai beberapa tahun terakhir. Persoalan utama konsep tersebut saat ini adalah margin keuntungan yang semakin tipis akibat kenaikan harga robusta.
Pria yang sudah melanglang buana di dunia perkopian itu mengungkapkan, harga robusta yang sempat menyentuh Rp168.000 per kilogram membuat biaya produksi kopi tubruk semakin tinggi. Dalam satu sajian tubruk, rata-rata dibutuhkan sekitar 20 gram kopi.
“Soalnya nggak cuan dengan harga robusta sekarang. Sekarang robusta kemarin aku cek Rp168.000 per kilo. Berarti 1 gramnya 168. Untuk bikin satu tubruk itu butuh 20 gram. Wis Rp5.000 sendiri, belum air, belum yang lain. Dijual Rp8.000, untungnya cuma Rp3.000,” jelasnya.
Kopi dingklik, dinilainya, masih bisa bertahan apabila konsumen memahami struktur harga kopi. Konsumen juga perlu bersedia membayar lebih tinggi agar pelaku usaha tetap memperoleh margin yang layak.
“Kecuali orang Malang sudah melek dengan harga kopi, kalau mau ngopi dengan harga tubruk Rp20.000, bertahan iku kopi dingklik. Tubruk itu untuk amannya di kopi dingklik harusnya di harga Rp.16.400,” pungkasnya. (ber/bob)








