Kota Malang, blok-a.com – Pemerintah Kota (Pemkot) Malang menyiapkan Pasar Talun sebagai destinasi wisata kuliner baru di kawasan Kayutangan Heritage. Keberadaan Pasar Talun dinilai memiliki potensi besar karena berada di jantung kawasan heritage dan menyatu dengan aktivitas masyarakat setempat.
Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat, mengatakan Pasar Talun mengusung konsep unik dengan fungsi ganda. Pada pagi hingga siang hari, kawasan tersebut dimanfaatkan warga untuk berjualan sayur-mayur layaknya pasar krempyeng. Sementara pada malam hari, Pasar Talun bertransformasi menjadi sentra kuliner khas Malang dengan suasana santai menyerupai kafe.
“Ini menjadi daya tarik tersendiri karena heritagenya Kayutangan ada di dalam sini. Siang untuk pasar warga, malam jadi kuliner khas Malang dan pengunjung bisa duduk santai,” ujar Wahyu, beberap waktu lalu.
Pemkot Malang berharap Pasar Talun dapat menjadi alternatif tujuan wisata kuliner bagi pengunjung Kayutangan, sehingga aktivitas wisata tidak hanya terpusat di area luar kawasan. Ke depan, Pasar Talun diproyeksikan sebagai destinasi wisata baru dengan karakter yang berbeda.
“Tentu Pasar Talun ini akan kita siapkan, karena ini jantungnya Kayutangan juga,” ungkapnya.
Sementara itu, Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Kampung Heritage Kajoetangan, Mila Kurniawati, menyebut pengembangan Pasar Talun merupakan inisiatif Karang Taruna yang dikelola bersama Pokdarwis. Pengelola berupaya mengubah stigma pasar yang selama ini identik dengan kesan kumuh menjadi ruang kuliner yang lebih tertata dan menarik.
“Kita ingin orang yang ke Kayutangan bisa sekalian kulineran ke Pasar Talun. Mindset pasar yang kotor kita ubah dengan konsep yang lebih tertata,” jelas Mila.
Saat ini, terdapat sekitar 15 pelaku UMKM yang aktif berjualan di Pasar Talun, dengan kapasitas kios atau tenan mencapai sekitar 20 unit. Selain itu, pengelola juga menggandeng perguruan tinggi untuk pendampingan UMKM, serta menjalin koordinasi dengan Dinas Koperasi, Perindustrian dan Perdagangan (Diskopindag) dan Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar).
Ke depan, Pokdarwis berharap adanya penguatan konsep dan terobosan baru agar Pasar Talun dapat berkembang seperti sentra kuliner di kawasan Klojen maupun Oro-oro Dowo, sekaligus menjadi ikon baru wisata Kayutangan pada 2026 mendatang.
“Kami harap ada gebrakan dan kami siap menyambutnya,” pungkas Mila. (bob)








