Kota Malang, blok-a.com – Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinsos P3AP2KB) Kota Malang memberikan pendampingan psikologis terhadap MCR (14), siswi Madrasah Tsanawiyah (MTs) asal Kecamatan Blimbing yang menjadi korban kasus asusila oleh oknum ojek online (ojol).
Pendampingan tersebut dilakukan bersama Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Satreskrim Polresta Malang Kota guna memastikan kondisi psikologis korban pasca kejadian.
Kepala Dinsos P3AP2KB Kota Malang, Donny Sandito mengatakan, pendampingan dilakukan setelah kasus tersebut dilaporkan ke pihak kepolisian.
“Penanganan yang kami lakukan, yaitu berupa pendampingan baik psikologi maupun psikiatri. Jadi setelah kasus tersebut dilaporkan dan dilakukan pemeriksaan, pihak kepolisian menghubungi kami untuk meminta bantuan pendampingan tersebut,” ujarnya, Kamis (21/5/2026).
Meski secara fisik korban terlihat dalam kondisi baik, pihaknya tetap melakukan pemeriksaan psikologis secara intensif. Hal itu dilakukan untuk mengantisipasi adanya trauma mendalam yang dialami korban.
“Kalau kondisi korban secara fisik, terlihat baik-baik saja. Tetapi ini laporan pemeriksaan psikologinya masih belum keluar, dan nanti hasilnya akan kami serahkan ke pihak kepolisian untuk melengkapi BAP (Berita Acara Pemeriksaan),” terangnya.
Dari hasil pendalaman sementara, tersangka berinisial WHS (39) diduga melakukan bujuk rayu terhadap korban agar mau datang ke rumahnya hingga terjadi tindakan asusila tersebut.
“Menurut keterangan korban, katanya seperti dimanipulatif oleh pelakunya. Namun, kami tidak bisa menyampaikan terlalu detail, karena sudah masuk ranah penyidikan kepolisian,” tambahnya.
Donny mengungkapkan, kasus itu terungkap berawal dari kecurigaan pihak sekolah terhadap hubungan korban dengan pelaku. Tersangka disebut kerap menjemput hingga mencium korban.
“Pihak sekolah curiga dengan perilaku aneh antara pelaku dengan korban, akhirnya orang tuanya pun dipanggil. Setelah itu, korban ditanya lebih lanjut dan orang tuanya langsung melaporkan ke polisi,” bebernya.
Ia pun mengimbau para orang tua agar lebih peka terhadap perubahan perilaku anak, baik di rumah maupun lingkungan pergaulan. Menurutnya, komunikasi menjadi langkah penting untuk mencegah kasus serupa terulang.
“Bagi para orang tua, awasi dan perhatikan perilaku anaknya baik di rumah maupun lingkungan pergaulan. Semisal kalau di rumah, yang biasanya ceria dan mendadak berubah jadi murung dan suka berdiam di dalam kamar, maka dekati lalu ajak bicara untuk memastikan kondisinya dan bisa berkata jujur,” tandasnya. (bob)




