Dipindah Lokasi Jualan, Pedagang Pasar Tumpah Jalan Anggrek Blitar Ngadu ke Dewan

Pedagang Pasar Tumpah Jalan Anggrek Kota Blitar mengadu ke Komisi 2 DPRD Kota Blitar. (blok-a.com/Fajar)
Pedagang Pasar Tumpah Jalan Anggrek Kota Blitar mengadu ke Komisi 2 DPRD Kota Blitar. (blok-a.com/Fajar)

Blitar, blok-a.com – Ratusan pedagang Pasar Tumpah Jalan Anggrek Kota Blitar menggeruduk kantor DPRD Kota Blitar, Selasa (14/05/24).

Kedatangan ratusan pedagang tersebut, untuk menyampaikan protes keberatan atas pemidahan (relokasi) Pasar Tumpah di Jalan Anggrek Kota Blitar ke lokasi sebelah Timur Pasar Templek, Jalan Kacapiring.

Sebelumnya Pemkot Blitar merelokasi 260 pedagang pasar tumpah yang biasa berjualan di Jalan Anggrek ke jalan Kaca Piring. Pemindahan tersebut dilakukan sejak tanggal 8 Mei 2024 lalu.

Para pedagang Pasar Tumpah tidak terima dan merasa keberatan direlokasi oleh pihak Pemkot Blitar. Mereka menganggap lokasi relokasi yang disiapkan oleh Pemkot Blitar tidak layak (terlalu sempit), karena setiap pedagang hanya diberikan lokasi 1 X 1,5 meter.

Apalagi lokasi yang baru untuk jualan belum dipaving, sehingga dagangan mereka menjadi kotor akibat terkena debu.

Hal tersebut diungkapkan Ketua Paguyuban Pasar Tumpah Templek Kota Blitar, Lukman Hakim.

“Selain lokasi untuk jualan kecil, akses masuk juga sempit dan macet. Sehingga pembeli enggan untuk mengunjungi lapak kami. Khususnya pedagang etek (pedagang sayur keliling) menjadi jarang membeli, karena sepeda motornya tidak bisa masuk hingga ke area lapak,” kata Lukman Hakim.

Lukman Hakim menambahkan, selain itu, para pedagang juga mengeluhkan terkait lokasi relokasi yang sudah banyak diisi oleh warga sekitar. Sehingga terjadi konflik horizontal antar pedagang.

“Kami tidak ingin terjadi konflik antar pedagang, baik pedang pasar tumpah dan pedagang warga sekitar,” imbuhnya.

Lebih lanjut Lukman menandaskan, para pedagang meminta untuk difasilitasi ke tempat yang baru, agar bisa menampung semua anggota paguyuban dan akses jalan yang memadai.

“Kami memohon izin untuk bisa difasilitasi ke tempat yang baru agar bisa menampung semua anggota paguyuban dan akses jalan yang memadai. Sehingga pelanggan kami bisa mengakses dan menjangkau lapak para pedagang,” tandasnya.

Para pedagang Pasar Tumpah mengaku, sejak direlokasi, omzet mereka turun drastis.

Karena lokasinya tidak strategis, dan membuat para pelanggan pasar tumpah banyak yang lari atau tidak jadi membeli.

“Sejak direlokasi, omzet kami turun. Biasanya Rp 400 ribu, kini bisa Rp 200 ribu aja bersyukur,” ujar salah satu pedagang.

Jika diizinkan, mereka meminta agar dicarikan tempat yang lebih strategis dibandingkan di jalan Kaca Piring, seperti di Pasar Legi.

“Kalau diizinkan para pedagang ini memilih berjualan di halaman Pasar Legi yang dianggap lebih luas dan strategis,” pungkasnya. (jar/lio)