Kota Malang, blok-a.com – Pemerintah Kota (Pemkot) Malang berencana memindahkan Tempat Penampungan Sementara (TPS) Sulfat ke lokasi baru. Langkah tersebut dilakukan untuk menindaklanjuti aspirasi warga sekaligus menambah Ruang Terbuka Hijau (RTH) di kawasan tersebut.
TPS yang berada di pertigaan Jalan Sulfat dan Jalan Sunandar Priyo Sudarmo dinilai sudah tidak lagi strategis. Selain berada tepat di dekat lampu lalu lintas, bau sampah dari lokasi itu kerap mengganggu pengguna jalan yang berhenti saat lampu merah.
Tak hanya itu, keberadaan TPS Sulfat juga berdekatan dengan makam tokoh agama, Waliyullah Syekh Muhammad Sholeh. Kondisi tersebut dinilai berpotensi mengganggu kekhidmatan peziarah yang datang ke lokasi.
Pelaksana Harian (Plh) Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Malang, Gamaliel Raymond, mengatakan lahan bekas TPS Sulfat nantinya akan diubah menjadi taman yang dapat dimanfaatkan masyarakat.
Sebagai pengganti, TPS Sulfat akan dipindahkan ke wilayah Kelurahan Purwantoro dalam bentuk Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS 3R). Pengembangan tersebut menjadi bagian dari penguatan sistem pengelolaan sampah melalui program Local Service Delivery Improvement Project (LSDP).
“TPS Sulfat akan kami pindahkan ke lokasi baru dan rencananya berada di sekitar Kelurahan Purwantoro. Bentuknya berupa TPS Reduce, Reuse, Recycle (TPS 3R) dan menjadi bagian dari pengembangan sistem pengelolaan sampah,” jelasnya.
Selain relokasi TPS Sulfat, Pemkot Malang juga menyiapkan pembangunan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) di kawasan TPA Supit Urang di atas lahan seluas 2,1 hektare. Saat ini, prosesnya masih menunggu hasil asesmen bersama Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Lingkungan Hidup, Bappenas, dan World Bank.
Penandatanganan nota kesepahaman (MoU) program LSDP dijadwalkan berlangsung pada Desember 2026. Sementara pembangunan fisik ditargetkan mulai dikerjakan pada 2027.
DLH Kota Malang telah menyusun Detail Engineering Design (DED) pembangunan TPST sejak 2023 dengan nilai sekitar Rp183 miliar. Namun, estimasi anggaran proyek kini diperkirakan menyesuaikan menjadi sekitar Rp120 miliar hingga Rp130 miliar.
Meski terjadi penyesuaian anggaran, Gamaliel memastikan rencana utama pembangunan TPST tidak berubah.
“Terkait hal itu, tidak ada perubahan rencana. Pengurangan hanya dilakukan pada skala proyek, seperti jumlah kendaraan operasional maupun kapasitas peralatan yang akan disediakan,” pungkasnya. (bob)




