Kota Malang, blok-a.com – Forum Pembauran Kebangsaan (FPK) Kota Malang turut angkat suara terkait konflik berkepanjangan antara Muhammad Imam Muslimin (Yai Mim) dan Ibu Sahara yang sempat viral dan menjadi perhatian publik secara luas.
Ketua FPK Kota Malang, Ahmad Fuad Rahman, menyerukan agar kedua pihak segera menempuh jalan damai demi menjaga suasana Kota Malang yang kondusif, nyaman, dan dikenal dengan kultur masyarakatnya yang guyub serta santai.
“Malang adalah kota yang menjunjung tinggi toleransi dan kebersamaan. Perluasan konflik pribadi menjadi konsumsi publik yang terus-menerus memanaskan suasana jelas tidak sejalan dengan semangat Pembauran Kebangsaan,” tegas Fuad, Sabtu (4/10/2025).
Menurutnya, konflik antartetangga yang sudah berlarut dan ramai di media sosial tidak hanya berdampak pada pihak yang berselisih, tetapi juga bisa merusak harmoni sosial yang selama ini menjadi ciri khas Kota Malang sebagai kota multietnis dan multikultural.
Ahmad Fuad menegaskan, FPK siap mendukung langkah mediasi yang dilakukan oleh pihak berwenang atau tokoh masyarakat untuk membantu penyelesaian konflik ini secara damai.
Ia juga mengimbau kedua belah pihak agar mengambil langkah-langkah konkret untuk menurunkan ketegangan.
“Kedua belah pihak harus mengambil jeda dan menahan diri, dengan menghentikan segala bentuk komunikasi publik maupun unggahan di media sosial yang dapat memperkeruh suasana,” jelasnya.
Lebih lanjut, Fuad menekankan agar kedua belah pihak menerima proses mediasi secara terbuka dan jujur, agar tercapai kesepakatan damai yang permanen.
Kemudian, ia mengimbau untuk mengembalikan norma bertetangga, dengan menyelesaikan masalah di meja perundingan, bukan di ruang publik yang justru menimbulkan kerugian bagi semua pihak.
“FPK berharap Yai Mim dan Ibu Sahara dapat menunjukkan kedewasaan dan kearifan dalam bersikap. Selesaikan persoalan ini secara internal dan bermartabat. Tunjukkan bahwa warga Malang mampu menyelesaikan masalahnya dengan damai,” ujarnya.
Fuad menambahkan, seluruh warga Malang diimbau untuk tetap tenang, tidak terprovokasi oleh narasi yang berkembang di media sosial, serta mendukung upaya perdamaian yang sedang diusahakan bersama.
“Yang paling penting sekarang adalah menjaga suasana Malang tetap ayem, tentrem, dan penuh kebersamaan,” pungkasnya. (yog/lio)




