Kabupaten Malang, blok-a.com – Upaya Kabupaten Malang menuju target zero waste bukan sekadar konsep di atas kertas. Di lapangan, sistem pengelolaan sampah berkelanjutan yang dijalankan TPS 3R Mulyoagung, Kecamatan Dau, menjadi model nyata bagaimana sampah dapat berkurang drastis sebelum sampai ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA).
Co Founder TPS 3R Mulyoagung, Nugroho, menjelaskan secara detail bagaimana alur kerja yang selama lebih dari satu dekade telah membuktikan efektivitasnya.
“Proses kerja dimulai dari rumah tangga. Warga wajib menaruh sampah di depan rumah masing-masing, bukan di depan gang. Petugas kami mengambil door to door memakai tong sampah beroda, dan rumah yang membayar iuran kami beri stiker khusus,” ujarnya.


Nugroho menerangkan, setelah dikumpulkan, sampah tidak langsung dibuang. Semuanya dipilah manual oleh para pekerja. Kertas, styrofoam, kantong plastik, plastik putihan, logam, hingga botol dipisah dalam enam keranjang berkapasitas 25 kilogram. Pemilahan tahap kedua dilakukan di pos masing-masing untuk memastikan tidak ada material tercampur.
“Sisa makanan kami bagi tiga. Ada yang dijadikan pakan ternak, ada yang untuk budidaya maggot, dan organik daun kami ubah menjadi kompos. Sayuran dan buah busuk kami jadikan eco-enzim, lalu kami kembangkan jadi sabun ramah lingkungan. Sudah kami uji di UB dan UM dan lolos,” jelasnya.
Sistem ini bukan hanya berhasil mengurangi tonase sampah, tetapi juga menciptakan nilai ekonomi baru. Penjualan sampah non-organik yang sudah dipilah menyumbang 40 persen pendapatan operasional TPS 3R.
“Sampah residu yang benar-benar tidak bisa diolah hanya tinggal 20 persen. Itu yang kami kirim ke TPA,” tambah Nugroho.
Sementara, Plt Kepala DLH Kabupaten Malang, Ahmad Dzulfikar Nurrahman, mengungkapkan bahwa pola TPS 3R seperti di Mulyoagung adalah fondasi roadmap Kabupaten Malang menuju zero waste.
“TPS 3R ini berjalan, otomatis mengurangi beban TPA. Di hulu kami dorong pengurangan sampah secara masif, di tengah TPS 3R menjadi jembatan sebelum ke TPA. Kalau sistem ini kuat, kita bisa mendekati zero waste,” ujarnya.
Ke depan, DLH Kabupaten Malang bahkan menargetkan pengolahan residu langsung di TPS 3R, sehingga sampah yang dibuang ke TPA semakin kecil.
“Kami masih butuh teknologi dan kajian kelayakan. Kalau residu dapat diproses di TPS 3R, maka volume ke TPA bisa berkurang lagi,” jelasnya.
Sementara itu, di TPA sendiri pemerintah menyiapkan teknologi RDF (Refuse Derived Fuel) untuk mengolah residu menjadi bahan bakar alternatif, serta alat pengeruk sampah lama untuk membersihkan timbunan yang sudah menahun.
“Di TPA sudah disiapkan teknologi untuk mengeruk sampah sisa. Kami benar-benar ingin mewujudkan zero waste beberapa tahun ke depan,” pungkasnya. (yog/bob)








