Manajemen Talenta Jadi Acuan Promosi Jabatan ASN, Wali Kota Malang: Tak Ada Lagi Like and Dislike

Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat dikonfirmasi soal Trans Jatim, Rabu (16/10/2025) (blok-a/Bob Bimantara Leander)
Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat dikonfirmasi soal Trans Jatim, Rabu (16/10/2025) (blok-a/Bob Bimantara Leander)

Kota Malang, blok-a.com – Pemerintah Kota (Pemkot) Malang mulai menerapkan sistem Manajemen Talenta sebagai dasar pengembangan karier dan promosi jabatan aparatur sipil negara (ASN). Sistem yang terintegrasi dengan Badan Kepegawaian Negara (BKN) tersebut diharapkan mampu menciptakan proses pengisian jabatan yang lebih objektif, transparan, dan bebas dari praktik like and dislike.

Wali Kota Malang Wahyu Hidayat mengatakan, Manajemen Talenta memetakan kompetensi ASN melalui mekanisme nine box atau sembilan kotak penilaian. Sistem tersebut menjadi dasar untuk menentukan kelayakan seorang ASN dalam menduduki jabatan tertentu.

“Ini membantu saya dengan Mas Wakil Wali Kota untuk mengetahui sejauh mana memetakan kondisi dan situasi seorang ASN. Kalau tidak masuk dalam boks tersebut, tidak akan bisa kita promosikan,” ujar Wahyu.

Menurutnya, penilaian dalam sistem nine box dilakukan berdasarkan berbagai indikator, mulai dari kompetensi, riwayat pendidikan, pelatihan, penghargaan hingga rekam jejak kedisiplinan ASN.

Wahyu menjelaskan, seluruh data tersebut akan terhubung dengan sistem milik BKN sehingga proses penilaian tidak bergantung pada subjektivitas pimpinan.

“Mereka harus proaktif, harus update terus agar nine box ini bisa terisi orang-orang yang sesuai dengan kompetensinya. Nanti terhubung dengan sistem Simata yang ada di BKN. Jadi bukan saya sendiri yang menentukan seseorang masuk ke boks tertentu, tetapi berdasarkan kompetensinya dan dinilai oleh sistem,” tuturnya.

Dari hasil pemetaan sementara, mayoritas ASN di lingkungan Pemkot Malang berada pada kategori boks 8. Sementara ASN yang masuk kategori boks 9 atau kelompok pemimpin tertinggi masih relatif sedikit.

“Yang paling besar ada di boks 8. Kalau top leader itu boks 9. Nah, boks 8 ini masih harus ada pelatihan dan pengembangan lagi supaya bisa naik ke boks 9,” katanya.

Wahyu mengakui masih banyak ASN yang belum aktif memperbarui data kompetensi maupun capaian kinerja. Padahal, data tersebut menjadi faktor utama dalam penilaian sistem Manajemen Talenta.

“Saya minta ASN-ASN sekarang mulai aktif. Karena saya tanya ke BKPSDM, hanya beberapa yang update terkait kompetensi yang dimiliki. Padahal penghargaan, kursus, pendidikan S1, S2, S3, semuanya harus dimasukkan agar sistem bisa menilai secara tepat,” ujarnya.

Ia menegaskan, penerapan Manajemen Talenta juga menjadi langkah untuk menghilangkan berbagai praktik negatif dalam promosi jabatan, termasuk unsur kedekatan personal maupun tekanan politik.

“Ini menghilangkan terkait dengan jual beli jabatan dan lain-lain. Like and dislike juga tidak ada. Tekanan politik juga tidak ada. Semua masuk dalam nine box itu,” tegasnya.

Karena itu, Wahyu meminta seluruh ASN segera melengkapi dan memperbarui data kompetensi mereka agar peluang pengembangan karier dapat dinilai secara maksimal oleh sistem.

“Kalau memang mereka tidak meng-update, ya saya apa adanya akan mengisi berdasarkan data yang ada. Kalau saya menunggu terus, mereka yang rugi sendiri karena ketinggalan kesempatan promosi,” pungkasnya. (yog/bob)