Bandel, Motor Knalpot Brong Masih Seliweran Meski Sudah Berkali-Kali Ditertibkan

Imbauan bagi pengendara motor dengan knalpot brong terpasang di dinding salah satu bangunan di Jl. Kertoaji, Ketawanggede, Lowokwaru, Kota Malang (foto: Blok-a.com/Ovan Z.)
Imbauan bagi pengendara motor dengan knalpot brong terpasang di dinding salah satu bangunan di Jl. Kertoaji, Ketawanggede, Lowokwaru, Kota Malang (foto: Blok-a.com/Ovan Z.)

Malang, Blok-a.com – Keresahan warga terhadap suara bising knalpot brong rupanya belum benar-benar hilang dari sejumlah titik di Kota Malang. Meski penertiban sudah beberapa kali diberitakan, suara motor berknalpot keras itu masih sesekali terdengar terutama saat malam hari. Di kawasan Merjosari, Kota Malang, suasana permukiman yang mestinya tenang mendadak pecah ketika pengendara dengan knalpot brong melintas.

Udin (25), warga setempat, bercerita bahwa intensitas suara knalpot brong memang sudah menurun, namun tetap ada dan muncul pada momen-momen tertentu. Ia mengaku kondisi Kota Malang sudah jauh lebih baik dibanding beberapa tahun lalu, tetapi area kampung atau jalan lingkungan masih sering dilewati pengendara dengan knalpot berisik.

“Kalau di daerah Kota Malang sekarang kayaknya sudah jarang. Tapi kalau di kampung masih banyak lah yang pakai knalpot brong, tapi ada,” ujarnya kepada Blok-a.com, Kamis (14/11/2025).

Suara bising itu, kata Udin, paling sering terdengar setelah Maghrib hingga malam. Pada jam-jam tersebut, lalu lintas motor di gang kecil dekat rumahnya relatif lebih ramai karena banyak warga yang baru pulang dari aktivitas harian.

“Kadang habis maghrib atau isyak, malam yang sering, cuma kalau tengah malam jarang biasanya. Mungkin pas mau keluar gitu biasanya lewat sini lewat depan sini. Nah, ini contohnya sudah ada ini,” tuturnya sambil menunjuk ke arah jalan.

Bagi sebagian warga, kemunculan suara knalpot brong juga mempengaruhi tingkat gangguan yang dirasakan. Di waktu-waktu masih sore atau belum larut, warga cenderung lebih toleran. Namun ketika suara itu muncul mendekati jam tidur, kondisinya berbeda. Deru keras motor bisa langsung memecah ketenangan dan mengganggu istirahat keluarga.

“Kalau di jam-jam segini itu masih gak terlalu berdampak ya, tapi kalau pas tengah malam itu pas orang mau istirahat mungkin itu bener bener terganggu suaranya. Ya itu saja sih tergantung jamnya jam berapa,” jelas Udin.

Pasrah & Berharap Kepada Pihak Berwenang

Menariknya, Udin menilai banyak warga di lingkungannya mulai bersikap pasrah. Mereka seperti sudah “kebal” dengan kebisingan dan merasa menegur secara langsung tidak akan memberikan perubahan apa pun. Selain itu, ketakutan akan potensi adu mulut dengan pengendara membuat warga memilih diam dan menyerahkan urusan itu kepada aparat.

“Udah terlalu terbiasa, mau dibilangin juga ga bisa kalau orang seperti itu. Jadi yaudah biarkan saja petugas yang mengurusnya. Kan, sekarang sudah ada perturan dari kepolisian tentang knalpot brong itu biar terserah yang berwajib lah,” ucapnya.

Meski begitu, Udin mengaku situasi di Merjosari mungkin tidak mewakili seluruh wilayah Kota Malang. Ia menilai tingkat masalah knalpot brong bisa saja berbeda-beda di tiap kecamatan.

“Karena saya jarang keluar juga, kalau di sini nggak terlalu parah sih, tapi nggak tau kalau di Malang bagian kecamatan atau kelurahan yang lain,” katanya.

Jika diberi kesempatan berbicara langsung kepada pihak berwenang, Udin berharap ada tindakan tegas sekaligus ruang alternatif bagi pengendara yang hobi motor modifikasi. Menurutnya, solusi seperti event khusus bisa membantu menekan penggunaan knalpot brong di hari-hari biasa.

“Ya mohon diberantas lah untuk knalpot brong atau bisa dibuatkan event saja khusus kapan gitu. Jadi di hari-hari biasa tetap normal jadi tidak ada knalpot brong,” harapnya. (mg1/gni)

Penulis: Rosa Dwi Eliyah (Mahasiswa Magang UTM Bangkalan)

Exit mobile version