Pedagang Mengeluh ke Kadiskopindag, Penjualan Daging di Kota Malang Merosot

Kepala Diskopindag Kota Malang, Eko Sri Yuliadi saat meninjau harga daging sapi di Pasar Bunul (blok-a.com / Yogga Ardiawan)
Kepala Diskopindag Kota Malang, Eko Sri Yuliadi saat meninjau harga daging sapi di Pasar Bunul (blok-a.com / Yogga Ardiawan)

Kota Malang, blok-a.com – Harga daging sapi di Kota Malang masih bertahan di level tinggi selama lebih dari dua pekan terakhir. Kondisi tersebut mulai dirasakan pedagang karena daya beli masyarakat ikut menurun.

Salah satunya terjadi di Pasar Bunul. Sarpin, pedagang daging sapi setempat, mengatakan kenaikan harga membuat volume penjualannya turun cukup signifikan.

Sebelum harga naik, ia mengaku mampu menjual sekitar 50 kilogram daging sapi dalam sehari. Kini, jumlah tersebut menyusut menjadi sekitar 15-30 kilogram per hari.

“Dampaknya agak repot menjualnya. Pembeli berkurang. Biasanya penjualan laku 50 kilogram tapi kalau sekarang lakunya sekitar 15-30 kilogram per hari,” ujarnya, Kamis (13/8/2026).

Sarpin mengungkapkan, mayoritas pembelinya merupakan pemilik warung. Ia berharap harga kembali normal sehingga aktivitas jual beli daging sapi bisa kembali bergairah.

“Pembelinya kebanyakan dari warung. Sapi agak berkurang dan mahal. Inginnya harga normal lagi jadi pembeli bisa ramai,” ungkapnya.

Saat ini harga daging sapi di tingkat pedagang mencapai Rp150 ribu per kilogram, naik sekitar Rp10 ribu dari harga sebelumnya Rp140 ribu per kilogram. Sementara harga dari Rumah Potong Hewan (RPH) berada di kisaran Rp145 ribu per kilogram.

Sementara, Kepala Diskopindag Kota Malang, Eko Sri Yuliadi, mengatakan kenaikan harga tidak semata-mata disebabkan berkurangnya pasokan sapi lokal. Berdasarkan hasil pemantauan, sejumlah RPH juga banyak menggunakan sapi impor.

“Sapi-sapi dari luar ngikuti harga dolar, sehingga harganya naik. Kita sudah cek bahwa kebutuhan masyarakat akan daging sapi meningkat, kemudian daging sapi lokalnya juga agak menipis, akhirnya RPH atau pemotong dari sapi itu semuanya dari sapi impor. Nah, itu yang memicu kenaikan,” kata Eko.

Kondisi tersebut membuat harga daging sapi ikut terdorong naik karena harga sapi impor dipengaruhi nilai tukar dolar.

Meski harga telah bertahan tinggi selama lebih dari dua pekan, Pemkot Malang belum berencana menggelar operasi pasar khusus daging sapi. Kebijakan operasi pasar yang berjalan saat ini masih difokuskan pada komoditas kebutuhan pokok lainnya.

“Kalau daging sapi ini kita masih belum memprioritaskan, tetapi tetap kita memantau dan mengimbau apabila ada kenaikan ini, kita pandai-pandailah untuk bisa berbelanja sesuai kebutuhannya,” pungkasnya. (yog/bob)

Exit mobile version