Profil Gus Idris, Pendakwah Asal Ngajum yang Tengah Disorot Publik atas Dugaan Pelecehan Seksual

Gus Idris, tokoh muda di Malang yang disorot atas dugaan pelecehan seksual (blok-a.com / Yogga Ardiawan)
Gus Idris, tokoh muda di Malang yang disorot atas dugaan pelecehan seksual (blok-a.com / Yogga Ardiawan)

Kabupaten Malang, Blok-a.com – Nama Muhammad Idris Al Marbawy atau Gus Idris belakangan menjadi sorotan publik setelah disebut dalam dugaan kasus pelecehan yang mencuat di media sosial.

Isu tersebut bermula dari unggahan akun Instagram @sovinovitav yang membagikan pengalamannya terkait tawaran shooting bertema “sumpah pocong” di Pondok Pesantren Thoriqul Jannah, Babadan, Kecamatan Ngajum, Kabupaten Malang. Unggahan itu kemudian viral dan memicu berbagai tanggapan warganet.

Menanggapi tudingan tersebut, Gus Idris melalui akun Instagram pribadinya, @gusidrisofficial, menyampaikan klarifikasi. Ia membantah tuduhan yang beredar dan menyebutnya sebagai framing serta tuduhan tanpa bukti yang terlanjur menyebar luas di media sosial.

Ia juga menggelar konferensi pers bersama kuasa hukumnya Guntur Abdi Putra Wijaya untuk mengklarifikasi tuduhan dan framing dugaan kasus pelecehan itu pada Jumat (13/2/2026).

Sebagai warga negara yang taat hukum, Gus Idris menyatakan akan bersikap kooperatif apabila memang ada proses hukum yang berjalan. Namun, hingga saat ini dalam platform media sosial itu tidak dijelaskan siapa ”Gus” yang dimaksud dalam unggahan tersebut.

“Kalaupun ada yang melaporkan atas nama saya, ya kita ikuti proses hukum. Insya Allah kita kooperatif,” kata dia.

Profil Gus Idris

Seiring ramainya perbincangan, sosok Gus Idris pun ikut menjadi perhatian. Berikut profil singkatnya.

Dikutip dari NU Online Jatim, Gus Idris memiliki nama lengkap Muhammad Idris Al Marbawy. Ia dikenal sebagai tokoh muda Nahdlatul Ulama (NU) asal Desa Babadan, Kecamatan Ngajum, Kabupaten Malang.

Ia merupakan Khodimul Majelis Thoriqul Jannah, sebuah majelis keagamaan yang memiliki ribuan jamaah dari berbagai daerah.

Gus Idris lahir di Malang pada 21 September 1990. Ia adalah putra pertama dari Kiai Rodiyallah, yang dikenal sebagai guru sekaligus pernah menjabat Ketua Pimpinan Anak Cabang (PAC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Ngajum. Di keluarganya, ia memiliki dua saudari, yakni Ning Hikmah dan Ning Nanda.

Sejak usia muda, Gus Idris menempuh pendidikan di lingkungan pesantren. Saat SMP, ia bersekolah di SMP Riyadlul Qur’an. Pendidikan SMA ditempuh di Pakisaji dan disebut lulus dengan predikat siswa terbaik.

Ia kemudian melanjutkan pendidikan tinggi di Universitas Islam Raden Rahmat serta Sekolah Tinggi. Selain pendidikan formal, ia juga menimba ilmu di sejumlah pondok pesantren, di antaranya Pondok Pesantren Riyadlul Qur’an Ngasem, Pondok Pesantren Miftahul Huda Mojosari, dan Pondok Pesantren Asyadily Sumber Pasir.

Gus Idris Dilaporkan

Gus Idris Dilaporkan Dugaan TPKS ke Polres Malang, Lima Saksi dan Korban Sudah Diperiksa

Di lingkungan pesantren, ia dikenal aktif dan memiliki minat kuat di bidang dakwah serta Al-Qur’an. Selama masa pendidikan, ia disebut meraih sejumlah prestasi, baik di tingkat pondok, Kabupaten Malang, hingga Provinsi Jawa Timur, khususnya dalam bidang Al-Qur’an.

Gus Idris telah aktif berdakwah sejak usia muda. Ia kerap mengisi ceramah di berbagai daerah, mulai dari lingkup kampung, masjid, hingga desa-desa di Malang Raya.

Dalam beberapa kesempatan, ia juga dipercaya menggantikan guru maupun ayahnya untuk mengisi majelis di berbagai daerah, bahkan hingga ke luar negeri seperti Hongkong, Makau, dan Taiwan.

Setelah menyelesaikan pendidikan dan menghafal Al-Qur’an, ia mulai lebih fokus menyebarkan dakwah. Gaya penyampaian yang dinilai mudah dipahami serta suara merdu saat melantunkan ayat suci Al-Qur’an dan shalawat menjadi ciri khasnya di hadapan jamaah.

Seiring waktu, ia mendirikan Majelis Thoriqul Jannah yang berkembang dan memiliki ribuan jemaah. Hingga kini, polemik yang menyeret namanya masih menjadi perhatian publik dan tengah diproses sesuai mekanisme hukum yang berlaku. (yog/gni)

Exit mobile version