Signage di Tulisan Kayutangan Heritage Mirip Kedai Bubur, Bukan Ide Pemkot Tapi Pelaksana Proyek

Signage di Tulisan Kayutangan Heritage Mirip Kedai Bubur, Bukan Ide Pemkot Tapi Pelaksana Proyek
Signage di Tulisan Kayutangan Heritage Mirip Kedai Bubur, Bukan Ide Pemkot Tapi Pelaksana Proyek

Kota Malang, blok-a.com – Viralnya signage di tulisan Kayutangan Heritage yang disebut mirip dengan sebuah kedai bubur, ternyata bukanlah ide dari Pemerintah Kota Malang. Namun, pemilihan untuk signage di tulisan tersebut ada di tangan pelaksana proyek renovasi taman.

Hal ini diungkapkan oleh Kepala Bidang RTH DLH Kota Malang, Laode KB Al Fitra saat diwawancara oleh Blok-A.com. Laode menyatakan, pembuatan signage itu sudah termasuk dalam biaya jasa renovasi taman.

Oleh karena itu, keputusan untuk menggunakan font dan warna pada signage tertentu ada di tangan penyedia jasa yang disewa oleh Pemkot Malang. “Itu kan include dengan tamannya itu yang tulisan-tulisan kan. 180 sekian juta rupiah include singnagenya itu,” terangnya.

Ia juga menyatakan bahwa jika ada yang menyamakan signage tersebut dengan tulisan lain, itu hanya perihal subjektifitas saja. “Saya pikir kalau masalah huruf itu kan, kenapa di masalahkan ya. Cuma huruf K aja boleh ya, sama itu A nya juga sama G,” tuturnya.

Jika diperhatikan, memang signage tersebut tidak sama persis dengan milik kedai bubur yang dibanding-bandingkan. Hal ini senada dengan penjabaran Ketua Asosiasi Desainer Grafis Indonesia chapter Malang Dimas Fakhrudin yang mengatakan keduanya bukan font yang sama persis.

“Gak sama persis sebenarnya, sama-sama font Bauhaus tapi beda tipe,” terang Dimas saat diwawancara oleh Blok-A.com sebelumnya.

Dimas juga mengatakan bahwa blunder yang dilakukan oleh pihak pembuat signage sebenarnya lebih ke penggabungan warna dan font tersebut yang membuat masyarakat mengasosiasikannya dengan kedai bubur. “Lebih ke warnanya yang blunder, jadi ini kan soal perspektif yang melihat ya, kombinasi itu sudah asosiasi pikiran mereka ke kedai bubur,” katanya.

Perihal penggunaan font Bauhaus dalam signage Kayutangan Heritage tersebut, Laode mengatakan bahwa pelaksana proyek renovasi memang sengaja menggunakan font yang gratis atau open source. “Kan nggak melanggar hukum kecuali ada yang harus beli, begitu kita pakai nggak beli. Itu kan bahaya,” terangnya.

Laode juga menerangkan bahwa pihaknya tidak memiliki rencana untuk membongkar atau mengganti signage yang sudah terpasang tersebut. “Ya kita itu kalau nggak melanggar aturan ya tetap saja. Kalau ada aturan yang melarang, itu baru (dibongkar). Itu nggak mengganggu estetika kok,” terangnya. (mg3/bob)

Exit mobile version