Tak Jadi Masuk Terminal Arjosari, DPRD Kota Malang Dorong Kajian Rute Trans Jatim

Ketua Fraksi NasDem-PSI DPRD Kota Malang, Dito Arief Nurakhmadi (foto: blok-a.com/Bob Bimantara Leander)
Ketua Fraksi NasDem-PSI DPRD Kota Malang, Dito Arief Nurakhmadi (foto: blok-a.com/Bob Bimantara Leander)

Kota Malang, blok-a.com – Rencana layanan Trans Jatim Koridor 2 di Malang Raya yang tak jadi menjangkau Terminal Arjosari menuai sorotan. Setelah Forum Diskusi Transportasi Malang (FDTM) menyampaikan nota protes kepada Dinas Perhubungan Provinsi Jawa Timur, kini dukungan agar Terminal Arjosari tetap masuk dalam rencana rute tersebut juga disuarakan Ketua Fraksi NasDem-PSI DPRD Kota Malang, Dito Arief Nurakhmadi.

Dito sepakat dengan aspirasi komunitas transportasi yang mempersoalkan tidak jadinya Terminal Arjosari menjadi terminal awal atau salah satu titik layanan Trans Jatim Koridor 2.

Menurutnya, Terminal Arjosari memiliki posisi strategis sebagai pintu gerbang transportasi di Malang Raya. Karena itu, keterhubungannya dengan layanan Trans Jatim perlu diperjuangkan untuk memperkuat konektivitas antarwilayah dan antarmoda transportasi.

Sebelumnya, FDTM melalui nota tertanggal 19 Oktober 2026 meminta Dishub Jawa Timur meninjau kembali keputusan tersebut. FDTM menilai tidak terhubungnya Trans Jatim Koridor 2 dengan Terminal Arjosari berpotensi menambah waktu perjalanan, biaya, waktu tunggu, hingga perpindahan moda bagi masyarakat.

FDTM juga berpandangan bahwa angkutan kota (angkot) seharusnya berfungsi sebagai angkutan pengumpan atau feeder yang melengkapi layanan Trans Jatim, bukan menjadi alasan untuk mengabaikan konektivitas dengan simpul transportasi strategis.

Sejalan dengan aspirasi tersebut, Dito menilai pengembangan Trans Jatim di Malang Raya semestinya mempertimbangkan peran Terminal Arjosari sebagai salah satu pintu utama mobilitas masyarakat.

“Kalau konsep atau gagasannya adalah Trans Jatim sebagai pintu gerbang sebagaimana di koridor lain di kota kabupaten lain, maka sebetulnya kalau masuk di Malang Raya, pintu utamanya adalah di Karangploso atau di Arjosari,” ujar Dito.

Ia juga menyoroti posisi Terminal Arjosari yang berada di bawah kewenangan Kementerian Perhubungan. Menurutnya, terminal tersebut merupakan pusat transportasi yang perlu terhubung dengan berbagai layanan dan destinasi penting di Malang Raya.

Ke depan, Dito berharap konektivitas Trans Jatim dapat menjangkau sejumlah titik. Mulai dari Terminal Madyopuro, Terminal Hamid Rusdi, Kepanjen, Karangploso, hingga Kota Batu. Keterhubungan dengan destinasi lain, termasuk Bandara Abdulrachman Saleh, juga dinilai perlu menjadi pertimbangan.

Meski mendukung aspirasi masyarakat, Dito menegaskan penentuan rute harus didasarkan pada kajian teknis yang objektif. Ia mendorong Dinas Perhubungan melibatkan ahli transportasi dan perguruan tinggi untuk mengkaji rencana pengembangan layanan tersebut.

“Yang kita perjuangkan ini adalah kepentingan masyarakat luas, kepentingan masyarakat umum,” tegasnya.

Di sisi lain, Dito menilai penataan transportasi lokal tetap perlu berjalan beriringan dengan pengembangan transportasi massal. Paguyuban angkot diharapkan ikut berbenah dan menjadi bagian dari sistem transportasi yang terintegrasi.

Menurutnya, skema seperti angkutan pelajar, feeder, hingga pengaturan ulang rute atau rerouting dapat menjadi upaya untuk mengakomodasi kebutuhan angkutan lokal.

Dengan kajian yang objektif dan perencanaan yang terintegrasi, Dito berharap pengembangan Trans Jatim Koridor 2 dapat memenuhi kebutuhan masyarakat sekaligus mendorong pembenahan transportasi lokal di Malang Raya. (bob)

Baca berita ter-update di Google News Blok-a.com dan saluran Whatsapp Blok-a.com

Redaktur pelaksana sekaligus Jurnalis blok-a.com yang memfokuskan liputan pada isu sosial, politik, dan peristiwa terkini di Malang Raya.