Kota Malang, blok-a.com – Banjir kerap melanda warga Jalan Ki Ageng Gribig Gang Mirej, Kelurahan Madyopuro, Kecamatan Kedungkandang, Kota Malang.
Dalam dua bulan terakhir, warga mencatat sudah enam kali banjir terjadi. Terakhir pada Selasa (21/4/2026) malam kemarin.
Salah satu warga, Syahrul, mengatakan ketinggian air rata-rata mencapai selutut orang dewasa. Bahkan, pada Desember 2024 lalu, banjir sempat mencapai sekitar dua meter.
“Akhir-akhir ini ya selutut gitu rata-rata. Cuma kalau terus-terusan, ya bikin kami gerah,” katanya, Rabu (22/4/2026).
Kondisi banjir ini diduga dipicu penyempitan alur Sungai Amprong serta tingginya sedimentasi yang menghambat aliran air.
Menanggapi hal tersebut, Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat, turun langsung meninjau lokasi.
Ia menjelaskan, aliran air dari wilayah hulu seluruhnya masuk ke Sungai Amprong. Namun, kondisi sungai yang menyempit membuat debit air tidak tertampung optimal.
“Aliran dari atas masuk ke Sungai Amprong. Di sana ada penyempitan dan sedimentasi tinggi, sehingga terjadi hambatan,” ujarnya.
Menurutnya, hal itu membuat kawasan tetap berpotensi banjir meski tidak terjadi hujan di lokasi.
“Di sini tidak hujan pun bisa banjir kalau di atas hujan deras,” katanya.
Wahyu menambahkan, Sungai Amprong merupakan kewenangan pemerintah pusat melalui Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS).
Karena itu, penanganan tidak bisa dilakukan sendiri oleh Pemkot Malang dan harus melalui koordinasi lintas sektor.
“Ini kewenangannya pusat. Jadi kita harus duduk bersama untuk mencari solusi,” jelasnya.
Ia menyebut, solusi yang disiapkan akan mencakup jangka pendek hingga panjang.
Mulai dari pengerukan sedimentasi sebagai langkah darurat, hingga rencana pembangunan embung untuk menampung air saat debit meningkat.
Selain itu, pengawasan di sepanjang Sungai Amprong juga akan diperketat.
Banyak bangunan yang berdiri di sempadan sungai dan menyebabkan alur menyempit. Kondisi ini memperlambat aliran air saat debit meningkat.
Tak hanya itu, penumpukan sedimentasi dan sampah juga memperparah kondisi sungai.
Karena itu, penataan kawasan sungai dan peningkatan kesadaran masyarakat dinilai penting agar masalah tidak terus berulang.
“Banyak faktor penyebabnya, mulai dari penyempitan, sedimentasi, sampai perilaku masyarakat. Semua harus dibenahi bersama,” tegasnya.




