Kota Malang, blok-a.com – Guru Besar Fisiologi Tumbuhan Universitas Islam Malang (Unisma), Prof. Dr. Ir. Hj. Istirochah Pujiwati, MP., mengenalkan budidaya microgreen kepada siswa SMA Islam Ma’arif melalui program pengabdian masyarakat, Sabtu (15/8/2026).
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari Program Hibah Institusi (HIMA) Pengabdian Masyarakat Unisma bertajuk “Membangun Generasi Cerdas Berjiwa Entrepreneur Melalui Pengenalan Pendidikan Tinggi dan Teknologi Budidaya Microgreen”.
Selain memberikan keterampilan bercocok tanam, pelatihan tersebut diarahkan untuk mengenalkan microgreen, yaitu tanaman sayuran mini sebagai peluang usaha yang dapat dilakukan siswa dengan lahan terbatas.
Prof. Istirochah mengatakan, microgreen dipilih karena proses budidayanya relatif sederhana dan tidak membutuhkan lahan luas. Bahkan, tanaman tersebut dapat dibudidayakan di ruang terbatas seperti kamar.
“Microgreen bisa dibudidayakan di media apa saja, seperti arang sekam, tanah pucuk (topsoil), thinwall, bahkan tisu basah. Modalnya sangat minim. Dan budidaya microgreen ini juga bisa dikerjakan di mana pun, di kamar bisa. Jadi, tidak memerlukan lahan yang luas,” ujar Prof. Istirochah.
Ia menjelaskan, microgreen memiliki waktu panen yang relatif singkat. Tanaman dapat dipanen sekitar 7 hingga 14 hari setelah ditanam. Selain itu, kandungan nutrisi tanaman tersebut diperkirakan mencapai 4 hingga 100 persen lebih tinggi dibandingkan tanaman dewasanya.
Pada sesi pelatihan, siswa diperkenalkan dengan sejumlah jenis microgreen, mulai dari pea shoots, bayam hingga kangkung. Tak hanya belajar teori, mereka juga diberi kesempatan mencicipi tanaman yang telah dipanen untuk merasakan kualitas hasil budidayanya.
“Pea shoots itu kacang tolo. Itu sudah umur tujuh hari dimakan sama adik-adik. ‘Oh, rasanya manis,’ begitu,” katanya.
Meski demikian, tidak semua tanaman dapat dibudidayakan dan dikonsumsi sebagai sayuran mini. Pakar Fisiologi Tumbuhan itu menyebut tanaman dari famili Solanaceae seperti tomat, cabai, dan terong tidak dianjurkan karena bagian tanaman pada fase awal pertumbuhan mengandung racun alami solamin.
Secara teknis, proses budidaya diperkenalkan secara bertahap. Benih terlebih dahulu ditempatkan dalam kondisi gelap atau blackout selama sekitar tiga hari untuk membantu proses perkecambahan. Setelah mulai tumbuh, tanaman kemudian dikeluarkan dari kondisi gelap dan diperkenalkan dengan cahaya secara bertahap. Tanaman tidak langsung ditempatkan di bawah paparan sinar matahari secara langsung karena masih dalam tahap adaptasi.
Pelatihan tersebut tidak berhenti pada praktik menanam. Para siswa juga dibekali buku saku mengenai metode budidaya microgreen agar dapat menerapkannya secara mandiri setelah kegiatan.
Prof. Istirochah mengatakan, aspek kewirausahaan menjadi salah satu tujuan utama program tersebut. Siswa didorong untuk melihat microgreen bukan hanya sebagai tanaman konsumsi, tetapi juga sebagai komoditas yang dapat dikembangkan menjadi usaha.
“Ini bisa menjadi objek adik-adik untuk mendapat penghasilan dengan hanya budidaya microgreen bisa di kamarnya,” ungkapnya.
Ia menyebut besaran pendapatan yang dapat diperoleh nantinya bergantung pada skala produksi masing-masing siswa. Budidaya dapat dilakukan menggunakan tray maupun wadah sederhana lainnya dengan berbagai pilihan media tanam.
Antusiasme siswa terhadap program tersebut bahkan melampaui target awal. Dari pelatihan yang digelar, terdapat empat kelompok siswa yang menyatakan siap menjalankan proyek mandiri budidaya microgreen di SMA Islam Ma’arif.
“Adik-adik sangat tertarik. Target saya untuk menjadikan satu kelompok budidaya microgreen di SMA Islam Ma’arif itu melebihi ekspektasi. Ada empat kelompok yang mau jadi pilot project,” ungkapnya.
Prof. Istirochah berharap kegiatan tersebut dapat memberikan keterampilan praktis kepada siswa sekaligus membuka pandangan bahwa aktivitas pertanian dapat dikembangkan dengan metode sederhana dan bernilai ekonomi. (ber/bob)




