Hari Santri Nasional, Unisma Tekankan Peran Santri di Era Digital

Upacara peringatan Hari Santri Nasional 2026 di lingkungan kampus Universitas Islam Malang. (blok-a.com/ M Berril Labiq)
Upacara peringatan Hari Santri Nasional 2026 di lingkungan kampus Universitas Islam Malang. (blok-a.com/ M Berril Labiq)

Kota Malang, blok-a.com – Universitas Islam Malang (Unisma) menekankan pentingnya peran santri di era digital dalam peringatan Hari Santri Nasional di halaman kampus Unisma, Kamis (22/10/2026). Santri diharapkan mampu mengikuti perkembangan teknologi untuk menyebarkan dakwah tanpa meninggalkan tradisi dan pemahaman keagamaan.

Wakil Rektor III Unisma, Dr. H. Muhammad Yunus, M.Pd., mengatakan santri perlu memiliki pemahaman agama yang kuat sekaligus mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman. Menurutnya, perkembangan platform digital dapat dimanfaatkan untuk memperluas jangkauan dakwah.

“Seorang santri itu akar tradisinya kuat tetapi cabangnya ini juga sangat luas. Sehingga santri di era digital adalah santri yang pemahaman keagamaannya tetap kuat tetapi melalui dakwah-dakwah melalui juga platform digital,” ujar Yunus seusai upacara.

Selain kemampuan beradaptasi dengan teknologi, Yunus menyoroti pentingnya kompetensi dan akhlak dalam mempersiapkan santri menghadapi tantangan masa depan. Hal tersebut dinilai semakin penting untuk menyambut bonus demografi Indonesia.

“Bonus demografi itu tentu ditandai dengan kecakapan, dengan keterampilan, dengan kompetensi yang bagus yang ditopang dengan akhlakul karimah yang baik,” katanya.

Yunus juga mengingatkan bahwa masa depan Indonesia membutuhkan generasi yang memiliki dasar keagamaan, keilmuan, dan kepedulian sosial. Menurutnya, nilai-nilai tersebut menjadi bekal untuk menjaga kemerdekaan sekaligus menjalankan tanggung jawab terhadap bangsa.

“Ke depan, tentu momentum ini kita jadikan masa depan Indonesia itu harus diisi oleh orang-orang yang memiliki iman takwa yang kuat, memiliki keilmuan yang kuat, memiliki rasa empati yang kuat sehingga kita bisa menjaga dan menjalankan kemerdekaan kita ini,” tuturnya.

Peringatan Hari Santri Nasional tahun ini mengangkat tema Kementerian Agama, yakni “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas”. Sementara itu, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mengusung tema “Menguatkan Akar Tradisi Menjaga Keutuhan Negeri”.

Yunus mengatakan, momentum Hari Santri juga menjadi pengingat atas perjuangan para santri, ulama, dan kiai dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Salah satu tonggak sejarahnya adalah Resolusi Jihad yang dicetuskan pada 22 Oktober 1945.

“Momentum masa lalu adalah mengingatkan kembali akan perjuangan para santri, para ulama, para kyai, para syuhada yang mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia,” ungkapnya.

Ia menambahkan, semangat perjuangan tersebut perlu diteruskan melalui tanggung jawab masing-masing pihak pada masa kini, termasuk di lingkungan perguruan tinggi. Menurutnya, pelaksanaan Tridharma Perguruan Tinggi menjadi bagian dari tanggung jawab sivitas akademika.

“Masa kini tentu kita ingin belajar dengan giat, melakukan tanggung jawab kita masing-masing sebagai rektor, sebagai dosen, sebagai karyawan, sebagai sivitas akademika, bertanggung jawab penuh atas tridarma perguruan tinggi yang melekat pada dirinya,” tutup Yunus. (ber)

Exit mobile version