Lebih 2 Dekade Teliti Jamur, Guru Besar Unisma Raih Peringkat Pertama LPTNU Awards

Ketua Yayasan Unisma, Prof. Agus Sugianto saat menceritakan penghargaan yang ia dapat dari LPTNU Awards 2026. (blok-a.com / M Berril Labiq)
Ketua Yayasan Unisma, Prof. Agus Sugianto saat menceritakan penghargaan yang ia dapat dari LPTNU Awards 2026. (blok-a.com / M Berril Labiq)

Kota Malang, blok-a.com – Lebih dari dua dekade menekuni penelitian di bidang jamur pangan atau edible mushroom Guru Besar Unisma,Prof. Dr. Ir. H. Agus Sugianto, M.P akhirnya meraih peringkat pertama dalam ajang LPTNU Awards 2026 pada bidang agroteknologi. Ketua Yauasan Unisma tersebut mengaku tidak menyangka akan menerima penghargaan tersebut.

Agus mengatakan, baru mengetahui akan menerima penghargaan tersebut saat menghadiri kegiatan bersama rektor di lingkungan Lembaga Pendidikan Tinggi Nahdlatul Ulama (LPTNU).

“Saya ini juga tidak tahu. Biasanya kalau menyertai rektor ke rapat di LPTNU itu gandengannya rektor dengan yayasan. Tapi kemarin tiba-tiba diberi tahu kalau saya menjadi penerima,” ujar Agus, Selasa (17/3/2026).

Menurutnya, proses penilaian dalam penghargaan tersebut berbeda dengan kompetisi akademik yang pernah diikutinya sebelumnya. Jika pada ajang lain biasanya terdapat proses seleksi langsung atau wawancara, dalam LPTNU Awards penilaian dilakukan sepenuhnya berbasis data rekam jejak akademik.

“Basisnya dari data di SINTA. Karya saya mulai dari pengabdian, buku, penelitian semuanya ada di sana, jadi penilaiannya benar-benar berdasarkan data,” katanya.

Dalam perjalanan akademiknya, Agus dikenal menekuni penelitian di bidang jamur pangan atau edible mushroom. Ketertarikannya pada bidang tersebut sudah dimulai sejak awal tahun 2000 dan sudah menulis total 68 buku.

“Mulai tahun 2000 saya sudah masuk di dunia jamur edible. Buku yang saya tulis ada sekitar 68, kemudian penelitian dan pengabdian juga fokus pada jamur,” ujarnya.

Penelitian tersebut mencakup berbagai jenis jamur yang dapat dikonsumsi, baik yang dibudidayakan menggunakan media padat maupun cair. Salah satu yang masih terus dikembangkan adalah pemanfaatan SCOBY, kultur mikroorganisme yang digunakan dalam proses fermentasi minuman teh.

Melalui penelitian tersebut, Agus juga aktif melakukan pengabdian kepada masyarakat, termasuk memberikan pelatihan budidaya jamur kepada berbagai kelompok masyarakat.

Penghargaan yang diterima, lanjut Agus, menjadi momen refleksi atas perjalanan panjangnya mengabdi di dunia akademik. Ia menyebut capaian tersebut sebagai bentuk pengabdian yang dipersembahkan untuk kampus tempatnya berkarya.

“Ini saya persembahkan untuk Unisma yang saya cintai. Saya sudah 62 tahun, mungkin hanya sisa tenaga yang bisa saya berikan untuk kampus ini,” kata Agus.

Lebih lanjut, ia berharap karya-karya akademik yang dihasilkannya dapat terus berkembang dan memberi manfaat, baik bagi pengembangan ilmu pengetahuan maupun bagi masyarakat luas. (ber/bob)

Exit mobile version