Kabupaten Malang, blok-a.com – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Malang tetap berjalan meski memasuki masa libur sekolah. Pelayanan dilakukan secara fleksibel, menyesuaikan dengan permintaan masing-masing sekolah dan siswa yang ingin tetap mengambil jatah makanan bergizi.
Sekretaris I Satuan Tugas Percepatan Penyelenggaraan Program MBG di Kabupaten Malang Mahila Surya Dewi mengatakan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kabupaten Malang tetap beroperasi bilamana ada permintaan saat libur sekolah.
“Kalau di kota kan libur, anak sekolah libur jadi SPPG juga libur. Kalau di kebijakan kami di kabupaten ini, SPPG tetap melayani sesuai dengan permintaan yang mau dilayani,” ujar Mahila, saat dikonfirmasi Rabu (24/12/2025).
Ia menerangkan, tidak semua sekolah memilih untuk tetap membuka layanan MBG selama libur. Sebagian sekolah memutuskan menghentikan sementara agar tidak merepotkan siswa maupun orang tua.
“Jadi tergantung permintaan. Ada sekolah yang libur ya sudah libur saja. Tapi ada juga sekolah yang anak-anaknya masih mau masuk hanya untuk ambil, terus pulang,” terangnya.
Mahila mencontohkan kondisi di SPPG Pagelaran yang sempat ia tinjau langsung. Dari kuota layanan harian sebesar 2.700 porsi, hanya sebagian kecil yang terserap selama libur sekolah.
“Kemarin kami sidak di SPPG Pagelaran. Dari kuota harian yang dilayani, karena libur sekolah, yang mau dilayani hanya sekitar 510,” ungkapnya.
Menurutnya, penurunan permintaan tersebut wajar karena banyak siswa memanfaatkan libur sekolah untuk bepergian bersama keluarga, sehingga tidak memungkinkan datang ke sekolah hanya untuk mengambil ransum MBG.
“Kan libur. Anak-anak banyak yang diajak orang tuanya ke luar kota, ke Lumajang atau ke mana. Tidak mungkin juga mereka datang ke sekolah hanya untuk mengambil,” katanya.
Terkait mekanisme pengambilan, Mahila menjelaskan selama libur sekolah, siswa yang ingin mendapatkan MBG harus datang langsung ke sekolah masing-masing.
“Iya, mekanismenya tetap ke sekolah. Mereka datang, ambil ransum, lalu pulang. Tapi ya tidak semua siswa mau, makanya jumlahnya fluktuatif tiap hari,” jelasnya.
Ia menambahkan, kebijakan berbasis permintaan ini diterapkan agar program MBG tetap tepat sasaran dan tidak menimbulkan pemborosan makanan.
“Daripada mubazir, akhirnya yang dilayani yang memang mau mengambil saja,” pungkasnya. (yog/bob)





