Kota Malang, blok-a.com – Angin kencang disertai hujan lebat melanda sejumlah wilayah di Malang Raya pada Rabu (4/3/2026) malam hingga hari ini Kamis (5/3/2026). Dampaknya, puluhan pohon tumbang dilaporkan terjadi di Kota Batu dan satu kejadian pohon tumbang juga terjadi di Kota Malang.
Di Kota Batu tercatat ada 31 pohon tumbang yang tersebar di beberapa titik. Sementara di Kota Malang, pohon tumbang terjadi di Jalan Muharto Gang 5, Kecamatan Kedungkandang.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi Karangploso Malang menjelaskan bahwa fenomena angin kencang dan hujan lebat tersebut dipicu oleh kemunculan dua bibit siklon tropis di selatan Pulau Jawa.
Prakirawan BMKG Karangploso Malang, Linda Fitrotul mengatakan bahwa kondisi cuaca ekstrem ini tidak hanya terjadi di Jawa Timur, melainkan juga merata di hampir seluruh wilayah Pulau Jawa, Bali hingga Nusa Tenggara.
“Untuk penyebabnya, karena ada dua bibit siklon tropis berada di selatan Pulau Jawa. Yaitu, bibit siklon 90 S mengarah ke timur dan bibit siklon 93 S mengarah ke barat,” ujarnya kepada Ketik.com, Kamis (5/3/2026).
Menurutnya, keberadaan dua bibit siklon tersebut memberi pengaruh besar terhadap dinamika cuaca di wilayah Indonesia bagian selatan. Dampaknya berupa angin kencang dengan kecepatan lebih dari 45 kilometer per jam serta hujan lebat yang datang secara tidak menentu.
“Adanya bibit siklon ini pengaruhnya sangat besar terhadap kondisi cuaca. Yaitu, angin kencang dengan kecepatan lebih dari 45 kilometer per jam dan hujan lebat yang tidak menentu waktunya, terkadang pagi hujan lalu reda kemudian hujan lagi sore sampai malam,” ungkapnya.
Selain itu, kondisi tersebut juga memicu gelombang tinggi di perairan selatan Jawa yang dapat mencapai lebih dari 6 meter.
Linda menjelaskan bahwa kemunculan bibit siklon tropis merupakan fenomena yang umum terjadi saat puncak musim hujan, khususnya pada Februari hingga Maret.
“Bibit siklon muncul karena pengaruh adanya faktor tekanan rendah dan perubahan iklim. Hal ini biasa terjadi saat bulan Februari dan Maret, yaitu pada puncak musim hujan,” jelasnya.
BMKG juga memprediksi awal musim kemarau di wilayah Malang Raya baru akan terjadi sekitar awal April hingga pertengahan Mei 2026.
Karena itu, masyarakat diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi perubahan cuaca secara mendadak.
“Kalau di dataran tinggi, hambatannya hampir tidak ada sehingga anginnya jauh lebih kencang. Sedangkan bagi masyarakat yang tinggal di perkotaan untuk jangan berteduh di bawah pohon, jauhi baliho atau papan reklame yang berpotensi rawan roboh, hingga sebisa mungkin hindari melintas di ruas jalan yang memiliki banyak pohon,” tandasnya. (bob)




