Kota Malang, blok-a.com – Ratusan mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Amarah Brawijaya bersama perwakilan sejumlah perguruan tinggi di Malang menggelar aksi demonstrasi di depan Gedung DPRD Kota Malang, Senin (15/6/2026) kemarin. Dalam aksi tersebut, mahasiswa menyampaikan lima tuntutan sekaligus menyuarakan kondisi yang mereka sebut sebagai “Indonesia Gawat Darurat”.
Presiden Eksekutif Mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) 2026, Muhammad Azhar Zidan, mengatakan aksi tersebut merupakan bentuk respons atas berbagai persoalan yang dinilai semakin membebani masyarakat dan belum mendapatkan perhatian serius dari pemerintah.
Menurutnya, demonstrasi itu menjadi wadah penyampaian aspirasi publik yang selama ini merasa tidak didengar oleh para pengambil kebijakan.
“Kami menyampaikan negara sudah masuk masa krisis dan kritis, Indonesia Gawat Darurat. Sehingga, kami turun dan membawa lima tuntutan,” kata Zidan.
Tuntutan pertama yang disuarakan mahasiswa adalah perbaikan tata kelola Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) melalui peningkatan efisiensi dan transparansi penggunaan anggaran negara. Mereka menilai berbagai persoalan ekonomi yang dirasakan masyarakat saat ini tidak terlepas dari kebijakan fiskal yang dianggap belum tepat sasaran.
Selain itu, mahasiswa juga meminta pemerintah mengambil langkah konkret untuk menekan harga kebutuhan pokok dan bahan bakar minyak (BBM) yang dinilai semakin memberatkan masyarakat.
Di tengah tekanan ekonomi yang dirasakan warga, mahasiswa menilai sejumlah program pemerintah perlu dievaluasi secara menyeluruh agar penggunaan anggaran negara lebih efektif dan tepat guna.
Tuntutan berikutnya adalah penghentian Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Program Koperasi Desa Merah Putih. Massa aksi menilai kedua program tersebut perlu ditinjau ulang, termasuk terkait dugaan penyimpangan yang belakangan mencuat.
“Saya mengutip apa yang disampaikan oleh Prabowo, jika ikan kepalanya busuk maka badan-badannya pun busuk. Kami yakin kemarin yang telah ditangkap itu hanya segelintir, dan kami menuntut kepala-kepala busuk lainnya juga diusut,” ungkapnya.
Selain isu ekonomi, mahasiswa juga menyuarakan penolakan terhadap perluasan peran TNI dan Polri di sektor sipil. Mereka menilai sejumlah regulasi yang muncul belakangan berpotensi mengaburkan batas antara fungsi sipil dan fungsi pertahanan maupun keamanan negara.
Mahasiswa juga mendesak pemerintah pusat untuk menyampaikan permintaan maaf kepada masyarakat atas berbagai persoalan yang dianggap muncul akibat kebijakan publik yang tidak berpihak kepada rakyat.
Dalam orasinya, Zidan menilai pemerintahan saat ini menunjukkan kecenderungan praktik kleptokrasi, yakni penggunaan kekuasaan yang lebih menguntungkan kelompok tertentu dibandingkan kepentingan masyarakat luas.
Ia juga menyoroti berbagai aksi demonstrasi yang terjadi di sejumlah daerah yang menurutnya belum memperoleh tanggapan memadai dari pemerintah.
“Kami memandang pemerintah saat ini, sangat tutup kuping dan tidak mendengarkan rakyat sejatinya,” tegasnya.
Menurut Zidan, ketidakmampuan pemerintah dalam merespons aspirasi masyarakat berpotensi memicu gelombang protes yang lebih besar di masa mendatang. Karena itu, pihaknya meminta adanya evaluasi menyeluruh terhadap pihak-pihak yang dinilai bertanggung jawab atas berbagai persoalan yang muncul.
Dalam aksi tersebut, mahasiswa juga mendesak seluruh fraksi di DPRD Kota Malang untuk menemui massa dan mendengarkan langsung tuntutan yang mereka sampaikan.
Mereka menegaskan akan terus mengawal berbagai isu yang mereka anggap merugikan masyarakat. Jika tuntutan tersebut tidak mendapat respons dari pemerintah maupun wakil rakyat, mereka membuka kemungkinan menggelar aksi lanjutan dengan melibatkan elemen masyarakat yang lebih luas.
“Hari ini kita melakukan aksi dan kami menuntut seluruh fraksi perwakilan di DPRD Kota Malang untuk turun dan hadir di tengah-tengah kita. Jika mereka tidak menemui kami, malam ini juga kita akan melakukan evaluasi dan konsolidasi yang lebih besar untuk menggelar gelombang massa yang jauh lebih besar lagi,” pungkasnya. (yog/bob)




