Potensi Wilayah Kekeringan di Kabupaten Malang Diprediksi Meningkat

20 Desa di Kabupaten Malang Terancam Kekeringan di Musim Kemarau
Situasi kekeringan ladang persawahan di Kabupaten Malang. (blok-a.com/Putu Ayu Pratama S)

 

Kabupaten Malang, blok-a.com – Memasuki musim kemarau panjang, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Malang memprediksi bencana kekeringan di Kabupaten Malang pada tahun 2024 akan bertambah.

BPBD juga telah memetakan potensi rawan kekeringan di sejumlah wilayah, potensi tersebut berkaca pada bencana kekeringan yang terjadi di tahun 2023 silam. Diantaranya yakni, ada 20 desa di 6 kecamatan.

Hal tersebut diungkapkan oleh Kepada Bidang Kedaruratan dan Logistik, Sadono Irawan. Ia menyebutkan, enam kecamatan tersebut meliputi Kecamatan Singosari, Jabung, Sumbermanjing Wetan, Kalipare, Donomulyo dan Sumberpucung.

“Kalau dibanding 2019 (potensinya) diperkirakan meningkat, cuma pemetaannya berubah,” kata Sadono saat ditemui belum lama ini.

Sebelumnya, BPBD Kabupaten Malang mendata bencana kekeringan pada tahun 2019 terjadi di 18 desa yang tersebar di sembilan kecamatan.

Kecamatan terjadi bencana kekeringan yakni di Kecamatan Donomulyo yang tersebar di lima desa yakni Desa Purwodadi, Sumberboto, Donomulyo, Banjarejo dan Tlogosari.

Selain meningkat dibandingkan tahun 2019, pemetaan wilayah yang berpotensi kekeringan di tahun 2024 juga mengalami perbedaan.

Pada tahun 2024, wilayah yang berpotensi terjamah kekeringan paling banyak terjadi di Kecamatan Sumbermanjing Wetan (Sumawe) yakni sebanyak tujuh desa.

Padahal, jika dibandingkan dengan data 2019, kekeringan di Kecamatan Sumawe hanya terjadi pada tiga desa yakni Desa Druju, Ringinsari dan Sumberagung.

“Yang hilang dari peta, bisa jadi desa itu dapat hibah dari pemerintah pengeboran melalui hipam. Ada lagi, perluasan jaringan distribusi PDAM,” jelasnya.

Lantas mengapa di tahun 2024 justru bertambah? Sadono mengatakan, hal tersebut dapat dikarenakan adanya trend musim kemarau yang lebih panjang dibandingkan tahun sebelumnya. Sehingga dapat menyebabkan debit air cenderung berkurang.

“Harusnya tahun ini di Desa Druju ada proyek HIPAM dari Dinas Pekerjaan Umum Cipta Karya. Tapi justru bertambah, karena tahun kemarin kemaraunya lebih panjang dari tahun tahun sebelumnya,” katanya.

Mengatasi hal tersebut, ia mengatakan telah menyiapkan antisipasi seperti mempersiapkan peralatan hingga logistik guna menghadapi musim kemarau salah satunya yakni ratusan tandon lipat atau protabel.

Ratusan tandon tersebut memiliki kapasitas penyimpanan yang berbeda-besa, ada 60 unit tandon yang berkapasitas 1.200 liter dan empat tandon berukuran 5.500 liter.

“Kalau kemarin kita hanya punya tandon darurat, dengan bantuan tandon dari Provinsi (Jawa Timu) semoga bisa memaksimalkan permintaan bantuan dari warga,” pungkasnya. (ptu)

Exit mobile version