Malang Bediding, Warga Diimbau Banyak Minum Hingga Gunakan Masker

Ilustras: kedinginan akibat fenomena malang bediding
Ilustras: kedinginan akibat fenomena malang bediding

Malang, blok-a.com – Fenomena bediding melanda wilayah Kabupaten Malang dan sekitarnya. Tidak bisa dianggap remeh, fenomena dingin ekstrem melebihi suhu pada umumnya ini dapat menyebabkan gangguan kesehatan yang cukup serius.

Forecaster Stasiun Klimatologi, BMKG Stasiun Klimatologi Jawa Timur, Pety Yuliana Sari, S.Tr menerangkan. Fenomena ini umum terjadi, utamanya di wilayah pegunungan. Namun tak menutup kemungkinan, juga dapat dirasakan oleh masyrakat di dataran rendah.

Fenomena tersebut dapat menyebabkan udara dingin saat malam hingga pagi hari. Sedangkan saat siang hari, terik sinar matahari lebih menyengat.

Diperkirakan, puncak fenomena bediding akan terjadi pada Agustus hingga September 2024 mendatang. Dengan suhu mencapai 16-17 derajat celcius saat malam hari.

“Seperti ini fenomena normal yang terjadi pada musim kemarau,” terang Pety kepada awak media belum lama ini.

Untuk itu, Pety mengimbau kepada warga Kabupaten Malang untuk menjaga cairan dalam tubuh. Sebab meski cuacanya dingin, udaranya cenderung kering.

“Karena udara dingin, biasanya tidak terasa haus. Artinya walaupun tidak haus tetap harus banyak minum air putih, karena kondisinya kering. Jadi asupan air cairan ke tubuh tetap harus terjaga,” ujar.

Selain menjaga cairan tubuh, Pety juga mengimbau masyarakat untuk mengonsumsi vitamin yang dapat meningkatkan metabolisme tubuh.

Sedangkan ketika berada di luar ruangan, masyarakat disarankan untuk menggunakan pelindung diri dari debu.

“Karena angin lumayan kencang juga. Jadi himbauan beraktivitas di luar rungan perlu dilakukan seperti memakai masker. Karena banyaknya angin akan membawa debu,” jelasnya.

Perlu diketahui, fenomena bediding di wilayah Malang ini terjadi disebabkan adanya angin moonsun Australia yang melewati berbagai daerah di Indonesia. Terutama wilayah yang dekat dengan Australia, seperti Jawa bagian selatan, Bali, dan Nusa Tenggara. (ptu/gni)