Kota Malang, blok-a.com – DLH Kota Malang terus berupaya melakukan pengolaham sampah menjadi energi.
Setelah rencana Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) terbentur syarat muatan sampah yang mencapai 2000 ton per hari, kini muncul wacana untuk mengembanglan sistem Refuse Derived Fuel (RFD).
Sebagai informasi, RFD adalah bahan bakar alternatif yang dihasilkan dari sampah non-organik yang tidak dapat didaur ulang, seperti plastik, kertas, dan tekstil. Sampah tersebut diproses melalui pemilahan, pengeringan, dan pencacahan hingga menjadi pelet atau serbuk yang bisa digunakan sebagai pengganti batu bara di industri, terutama pabrik semen atau pembangkit listrik. RDF membantu mengurangi volume sampah di TPA sekaligus menekan penggunaan energi fosil.
“Ada dua pelauang, yakni pembangunan PSEL, dan pengolahan sampah menjadi RFD. Keputusannya nanti dari pusat,” kata Plh, Kepala DLH Kota Malang, Gamaliel Raymond Hatigoran Matondang.
Raymond menjelaskan, meskipun keputusan dari pemerintah pusat belum jelas, RFD sepertinya lebih berpotensi dibangun di Kota Malang. Karena kebutuhan sampah untuk RFD lebih kecil daripada PSEL. Untuk RFD kebutuhan sampah yang diolah hanya 500 ton. Hal ini pun bisa dilakukan tanpa bantuan kiriman sampah dari Kabupaten Malang atau Kota Batu.
Upaya Pemkot Malang Penuhi 2 Ribu Ton Sampah per Hari untuk Proyek PSEL
Sekadar diketahui, sebelumnya untuk memenuhi kebutuhan sampah harian PSEL Kota Malang melibatkan kiriman sampah dari Kabupaten Malang dan Kota Batu. Kota Malang sudah siap memasok sampah 520 ton per hari, Kabupaten Malang, 440 ton per hari, dan Kota Batu 50 ton per hari.
“Sampah di Kota Malang cukup untuk RDF. Karena kemampuannya masih di bawah 500 ton per hari, sedangkan sampah kita lebih dari 500 ton,” kata dia.
DLH pun sudah menyiapkan lahan
untuk pembangunan RFD di TPA Supit Urang, Kota Malang. Lahan yang disiapkan adalah 2 hektare. Bahkan DLH juga menyiapkan 5 hektar pula jika PSEL juga dibangun.
“Semua lahan sudah siap, tinggal menunggu keputusan dari pemerintah pusat. Pemkot hanga menyiapkan lokasi dan berusaha memenuhi syarat,” jelasnya.
Sementara itu, Raymond juga menyinggung soal persiapan PSEL. Dia optimis kebutuhan sampah mampu mencapai 2 ribu ton per hari. Hal ini bisa terpenuhi jika menghunakan timbunan sampah di TPA Supit Urang, yang mana mencapai lebih dari 4 juta kubik.
“Jadi kalau tiap hari diambil serinu ton. Sampai 7 tahun tidak habis tapi perlu studi lagi, seperti apa kriteria pemilahan dan pengolahan yang masuk ke mesin PSEL,” imbuhnya.
Kini dia pun menunggu keputusan pemerintah pusat. Semua upaya untuk memenuhi syarat baik RFD dan PSEL sudah dilakukan DLH Kota Malang dengan mengacu pada Peraturan Presdien terbaru tenatng Pengolahan Sampah Menjadi Energi Ramah Lingkunhan.
“Kami sudah siapkan lokasi dan semua persyaratan. Tinggal menunggu keputusan pemerintah pusat, apakah memilih PSEL atau RFD,” tutupnya. (bob)








