Kabupaten Malang, blok-a.com – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malang mulai merealisasikan pengelolaan sampah berkelanjutan dengan melakukan pengiriman perdana Refuse Derived Fuel (RDF) dari Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Paras, Kecamatan Poncokusumo, ke PT Solusi Bangunan Indonesia (SBI) di Tuban, Jawa Timur.
Pengiriman perdana ini diresmikan langsung oleh Bupati Malang HM Sanusi, didampingi Kapolres Malang AKBP Danang Setiyo Pambudi Sukarno, Sekretaris Daerah Budiar Anwar, serta Plt Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Malang Ahmad Dzulfikar Nurrahman, Senin (22/12/2025).
Bupati Sanusi menjelaskan, pengiriman RDF merupakan tindak lanjut nota kesepahaman (MoU) yang telah ditandatangani Pemkab Malang bersama PT SBI dan kementerian terkait sekitar satu tahun lalu di Kantor Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).
“Tujuannya agar pengelolaan sampah lebih terukur dan terarah. Kabupaten Malang berkomitmen dan hari ini kita buktikan dengan pengiriman perdana RDF,” ujar Sanusi.
RDF sendiri merupakan bahan bakar alternatif yang dihasilkan dari pengolahan sampah, terutama sampah anorganik bernilai kalor tinggi seperti plastik, kertas, dan residu lainnya. RDF dimanfaatkan sebagai pengganti sebagian bahan bakar fosil di industri semen, sehingga lebih ramah lingkungan dan bernilai ekonomi.
Pada tahap awal, RDF dikirim menggunakan truk diesel dengan muatan sekitar 6 ton per pengiriman. Hal ini disesuaikan dengan kondisi teknis serta adanya pembatasan kendaraan bertonase besar di jalan raya.
“Karena masih ada larangan kendaraan besar, sementara kita kirim pakai truk diesel. Ke depan, pengiriman bisa menggunakan kontainer karena stok RDF kita cukup besar,” jelasnya.
Sanusi mengungkapkan, saat ini stok RDF siap kirim di TPA Paras Poncokusumo mencapai sekitar 3 ribu ton dan berpotensi terus bertambah seiring optimalisasi pengolahan sampah. Harga RDF diperkirakan mencapai Rp400 ribu per ton untuk kualitas terbaik, yang seluruh hasil penjualannya akan masuk sebagai Pendapatan Asli Daerah (PAD) setelah dikurangi biaya operasional.
“Ini jelas menambah PAD. Tinggal dikalikan volumenya. Sampah sekarang punya nilai ekonomi,” tegasnya.
Lebih lanjut, Sanusi menekankan bahwa kerja sama pengiriman RDF ini tidak hanya berdampak pada peningkatan PAD, tetapi juga menjadi solusi strategis dalam mengurangi beban TPA dan penanganan sampah jangka panjang.
“Sampah tidak lagi hanya dibuang, tapi diolah menjadi energi alternatif. Ini langkah nyata menuju pengelolaan sampah yang ramah lingkungan dan berkelanjutan,” pungkasnya. (yog/bob)








