Kabupaten Malang, blok-a.com – Suara sobekan bungkus booster pack terdengar bersahutan dari sudut ruangan. Beberapa orang tampak serius mengamati kartu yang baru mereka dapatkan, sementara lainnya asyik berdiskusi soal karakter favorit dan strategi permainan. Di sebuah toko kartu koleksi yang berada di kawasan Elpico Business Park, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang, hobi mengoleksi kartu tidak sekadar menjadi aktivitas pribadi, tetapi juga ruang yang mempertemukan banyak orang dengan minat yang sama.
Di etalase toko bernama Kolektible itu, berjejer rapi berbagai kartu koleksi dari beragam waralaba populer. Mulai dari Pokemon, One Piece, Yu-Gi-Oh, Dragon Ball hingga sports card. Namun di antara berbagai pilihan tersebut, Pokemon masih menjadi magnet utama yang paling banyak menarik perhatian pengunjung.
Bagi sebagian orang, kartu Pokemon mungkin hanya terlihat sebagai potongan karton bergambar karakter animasi. Namun bagi para kolektor dan pemain trading card game (TCG), kartu-kartu tersebut memiliki nilai lebih. Ada yang memburunya untuk melengkapi koleksi, ada pula yang menggunakannya dalam pertandingan dengan aturan permainan tertentu.
Community Leader Kolektible, Charles, mengatakan Pokemon hingga kini masih menjadi produk paling diminati. Popularitasnya yang telah bertahan selama puluhan tahun membuat karakter-karakter Pokemon tetap memiliki tempat di hati berbagai generasi.
“Mayoritas masih Pokemon. Itu IP yang paling besar. Setelah itu baru One Piece, Yu-Gi-Oh, dan yang lainnya,” ujarnya saat ditemui blok-a.com, Minggu (21/6/2026).
Menurut Charles, banyak pelanggan yang awalnya mengenal Pokemon melalui serial anime maupun video game sebelum akhirnya tertarik mengoleksi kartunya. Faktor nostalgia menjadi salah satu alasan mengapa pasar Pokemon card justru saat ini banyak didominasi kalangan dewasa.
Mereka yang tumbuh bersama Pokemon pada era 1990-an hingga awal 2000-an kini memiliki daya beli yang lebih besar untuk membeli booster pack, kartu edisi khusus, maupun produk koleksi lainnya.
“Kalau Pokemon itu fokusnya memang ke koleksi. Tapi selain itu juga bisa dibuat battle,” katanya.
Perjalanan Kolektible sendiri bermula dari sebuah pop-up store di kawasan Jalan Soekarno-Hatta. Seiring berkembangnya komunitas dan meningkatnya minat masyarakat terhadap kartu koleksi, toko tersebut kemudian berpindah ke Elpico Business Park dan mengembangkan konsep yang lebih luas.
Kini Kolektible menempati tiga lantai dengan fungsi berbeda. Lantai pertama diisi berbagai produk koleksi dan kartu grading. Lantai kedua menjadi area Pokemon Store sekaligus tempat bermain para penggemar TCG. Sementara lantai ketiga difungsikan sebagai area kafe dan ruang berkumpul berbagai komunitas hobi, mulai dari sports card hingga permainan seperti mahjong. Dalam waktu dekat, area tersebut juga direncanakan menghadirkan arena Tamiya.
Tak hanya menjadi tempat berbelanja, Kolektible juga berkembang menjadi titik temu komunitas TCG di Malang. Hampir setiap pekan, para pemain berkumpul untuk mengikuti berbagai turnamen yang rutin digelar.
Untuk Pokemon misalnya, terdapat Gym Battle yang berlangsung setiap Rabu dan Sabtu. Jumlah peserta minimal delapan orang dan kerap mencapai puluhan pemain saat akhir pekan.
“Kalau yang paling ramai biasanya Sabtu. Bisa sampai belasan bahkan puluhan peserta,” ungkap Charles.
Selain turnamen mingguan, sejumlah kompetisi berskala regional juga rutin digelar dengan peserta yang datang dari berbagai daerah. Dalam satu turnamen, jumlah peserta bisa mencapai 32 hingga 64 orang.
Perkembangan komunitas tersebut menjadi salah satu faktor yang membuat minat terhadap kartu koleksi terus bertumbuh. Tidak hanya pemain aktif, tetapi juga kolektor yang secara khusus berburu kartu tertentu.
“Kalau kolektor biasanya sudah tahu kartu apa yang dicari. Mereka langsung tanya karakter tertentu yang mereka inginkan,” katanya.
Fenomena lain yang kini semakin sering ditemui adalah aktivitas membuka booster pack atau yang populer disebut “brewek”. Kegiatan ini menjadi daya tarik tersendiri karena selalu menyimpan unsur kejutan.
Para kolektor biasanya membeli beberapa pack sekaligus, bahkan satu boks penuh, untuk memperbesar peluang mendapatkan kartu langka yang menjadi incaran.
“Kadang ada yang beli satu boks langsung. Karena memang cari kartu tertentu atau mengincar kartu yang langka,” ujar Charles.
Di tengah maraknya tren hobi baru yang bermunculan, kartu Pokemon menunjukkan bahwa daya tariknya belum memudar. Kombinasi antara nostalgia, unsur koleksi, permainan kompetitif, dan kuatnya komunitas membuat kartu-kartu bergambar monster saku tersebut tetap memiliki tempat tersendiri di kalangan penggemarnya.
Bagi sebagian orang, nilainya mungkin hanya sebatas kartu. Namun bagi komunitas yang tumbuh di sekitarnya, setiap kartu menyimpan cerita, kenangan, dan keseruan yang terus hidup dari satu generasi ke generasi berikutnya. (bob)








