Kota Malang, blok-a.com — Keberadaan alun-alun yang berdampingan dengan masjid dan pusat pemerintahan ternyata bukan sekadar pola tata kota biasa. Di banyak daerah di Indonesia termasuk Kota Malang, konsep tersebut telah menjadi bagian penting dalam struktur pemerintahan sejak masa kerajaan hingga kolonial Belanda.
Di Kota Malang, pola itu masih terlihat jelas di kawasan Alun-Alun Merdeka. Di sisi barat berdiri masjid agung, sisi utara dahulu menjadi kawasan rumah dinas Bupati Malang, sisi timur area pasar, sedangkan sisi selatan menjadi pusat administrasi pemerintahan kolonial Belanda yang kini menjadi kawasan Kantor Pos.
Sejarawan Malang, Agung Buana, mengatakan Alun-Alun Merdeka dibangun bersamaan dengan berdirinya pemerintahan Kabupaten Malang pada awal abad ke-19, tepatnya ketika Raden Tumenggung Notodiningrat I menjabat sebagai Bupati Malang pertama pada 1819 hingga 1839.
Ia menjelaskan, alun-alun pada masa itu memang difungsikan sebagai pusat pemerintahan sekaligus ruang publik masyarakat.
“Alun-alun itu dibentuk sebagai salah satu kelengkapan struktur pemerintahan,” ujar Agung saat dikonfirmasi, Kamis (28/5/2026).
Ia mengungkapkan, rumah dinas Bupati Malang saat itu berada di sisi utara alun-alun atau lokasi yang kini menjadi kawasan Gedung Sarinah. Sementara di sisi selatan terdapat rumah sekaligus kantor Asisten Residen Belanda.
“Di Malang, representasi Belanda ada di sisi selatan, sedangkan rumah bupati ada di sisi utara. Jadi saling berhadapan,” ungkapnya.
Menurut Agung, konsep tata kota tersebut tidak hanya ditemukan di Malang. Pola serupa juga diterapkan di sejumlah kota lain di Indonesia, terutama di Pulau Jawa.
Di Yogyakarta misalnya, Alun-Alun Utara berada tepat di depan Keraton Yogyakarta dengan Masjid Gedhe Kauman di sisi barat dan pusat pemerintahan keraton di sekitarnya.
Sementara di Bandung, kawasan alun-alun juga berdampingan dengan Masjid Raya Bandung dan pusat pemerintahan kota. Pola tata ruang serupa juga masih dapat ditemukan di Solo, Cirebon hingga Semarang.
Agung menyebut alun-alun pada masa lalu tidak hanya berfungsi sebagai pusat pemerintahan, tetapi juga ruang netral untuk masyarakat berkumpul, menggelar kegiatan budaya, hingga aktivitas sosial lainnya.
“Alun-alun itu tempat luas yang biasanya ada pohon beringin. Dipakai untuk pertemuan masyarakat, kegiatan budaya, dan ruang netral,” jelasnya.
Keberadaan masjid di sisi barat alun-alun juga menjadi simbol kuatnya hubungan antara pemerintahan dan kehidupan religius masyarakat pada masa itu. “Sedangkan pasar yang berada di sekitar alun-alun menunjukkan bahwa kawasan tersebut sekaligus menjadi pusat aktivitas ekonomi warga,” pungkasnya. (yog/bob)








