Kota Malang, blok-a.com – Memasuki awal musim kemarau, suhu udara di Kota Malang justru terasa lebih dingin dibanding biasanya. Kondisi yang dikenal masyarakat dengan istilah bediding ini mulai dirasakan terutama pada malam hingga pagi hari dan diperkirakan akan berlangsung dalam beberapa bulan ke depan.
Kepala BPBD Kota Malang, Prayitno, menjelaskan fenomena tersebut merupakan kondisi yang umum terjadi saat musim kemarau. Berkurangnya tutupan awan membuat panas yang tersimpan di permukaan bumi pada siang hari lebih cepat terlepas ke atmosfer ketika malam tiba.
Akibatnya, suhu udara pada malam hingga pagi hari menjadi lebih rendah dan terasa lebih dingin dibandingkan saat musim hujan.
“Penurunan suhu terjadi karena minimnya tutupan awan saat musim kemarau, sehingga panas yang tersimpan di permukaan bumi pada siang hari lebih cepat terlepas ke atmosfer pada malam hari. Selain itu, angin muson timur dari Australia juga membawa massa udara yang lebih kering dan dingin ke wilayah Indonesia,” kata Prayitno saat dikonfirmasi, Senin (1/6/2026).
Menurutnya, fenomena bediding tahun ini berpotensi terasa lebih kuat karena berbarengan dengan pengaruh El Nino. Kondisi tersebut dapat memicu anomali iklim yang ditandai dengan suhu udara lebih dingin pada malam hari dan cuaca lebih panas saat siang hari.
Karena itu, masyarakat diminta untuk menjaga kondisi kesehatan selama fenomena tersebut berlangsung. Penggunaan pakaian hangat pada malam dan pagi hari serta menjaga daya tahan tubuh menjadi langkah sederhana yang dapat dilakukan untuk mengurangi dampak suhu dingin.
Prayitno mengatakan kelompok yang perlu mendapat perhatian lebih adalah anak-anak, lanjut usia, serta warga yang memiliki riwayat penyakit pernapasan. Pasalnya, suhu dingin dapat memicu gangguan kesehatan apabila tidak diantisipasi dengan baik.
Selain berdampak pada kesehatan, fenomena bediding juga berpotensi memengaruhi sektor pertanian dan peternakan. Di kawasan dataran tinggi, suhu yang sangat rendah dapat memicu munculnya embun es atau bun upas yang berisiko merusak tanaman.
Untuk itu, petani dan peternak diimbau mulai melakukan langkah antisipasi guna meminimalkan potensi kerugian akibat cuaca dingin yang terjadi selama musim kemarau.
“Masyarakat tidak perlu panik, tetapi tetap perlu waspada dan terus memantau informasi cuaca agar dapat melakukan langkah pencegahan sesuai kondisi di wilayah masing-masing,” pungkasnya. (yog/bob)








