Pemkot Malang Wacanakan Museum Sejarah Sepak Bola di Stadion Gajayana

Stadion Gajayana. (dok. Kompas)
Stadion Gajayana. (dok. Kompas)

Kota Malang, blok-a.com – Pemerintah Kota Malang mewacanakan pembangunan museum sejarah sepak bola di kawasan Stadion Gajayana. Gagasan ini muncul sebagai upaya pelestarian sejarah panjang sepak bola sekaligus perjalanan sosial masyarakat Malang yang tak terpisahkan dari stadion legendaris tersebut.

Wakil Wali Kota Malang, Ali Muthohirin, mengatakan rencana pembangunan museum berangkat dari aspirasi para senior sepak bola, penulis buku, budayawan, sejarawan, hingga kalangan Aremania. Stadion Gajayana dinilai memiliki nilai historis yang kuat, bukan sekadar sebagai arena olahraga, tetapi juga simbol persatuan arek-arek Malang.

“Stadion Gajayana ini bukan hanya tempat bermain sepak bola. Ia menjadi saksi sejarah perjalanan panjang persatuan dan persaudaraan arek-arek Malang yang dulu disatukan oleh spirit sepak bola,” ujar Ali, Sabtu (3/1/2025).

Menurutnya, sepak bola dan aktivitas olahraga telah menjadi ruang pemersatu berbagai kelompok masyarakat di Malang. Karena itu, keberadaan museum dinilai penting sebagai pengingat sejarah sekaligus sarana edukasi bagi generasi muda.

Rencana museum tersebut akan menampilkan perjalanan pembangunan Stadion Gajayana, sejarah sepak bola di Kota Malang dan Malang Raya, hingga sisi sosiologis dan antropologis stadion yang mampu menyatukan lintas generasi. Berbagai koleksi seperti miniatur, dokumentasi, serta data sejarah dari para sejarawan akan dikumpulkan dan dipamerkan.

“Mulai dari perjalanan lintas usia, prestasi pemain, piala, hingga legenda sepak bola Malang, termasuk pemain asal Malang yang pernah memperkuat tim nasional, akan ditampilkan di museum,” jelasnya.

Terkait teknis pembangunan, Ali menyebut rencana tersebut masih berupa wacana dan akan dibahas lebih lanjut. Realisasi museum juga mempertimbangkan kondisi efisiensi anggaran yang saat ini tengah berjalan.

Untuk lokasi, museum direncanakan berada di dalam kawasan Stadion Gajayana dengan memanfaatkan ruang yang masih tersedia. Konsepnya mengacu pada stadion-stadion di Eropa, yang tak hanya difungsikan sebagai arena olahraga, tetapi juga destinasi sport tourism dan ruang literasi sejarah.

“Harapannya, orang datang ke stadion bukan hanya untuk menggunakan lapangan, tetapi juga untuk room tour dan belajar sejarah,” tambahnya.

Sementara itu, terkait pengelolaan museum, Pemkot Malang masih membuka berbagai opsi. Pengelolaan dapat dilakukan oleh pemerintah daerah maupun melibatkan pihak swasta, dengan harapan tidak membebani anggaran daerah. (bob)