Kota Malang, blok-a.com – Delapan dosen dari Universitas Islam Malang (Unisma) berhasil meraih penghargaan dalam ajang Malam Anugerah Lembaga Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama (LPTNU) 2026 yang diselenggarakan pada Minggu 8 Maret 2026.
Penghargaan tersebut diberikan kepada akademisi di lingkungan perguruan tinggi Nahdlatul Ulama yang dinilai memiliki kontribusi ilmiah dan akademik signifikan.
Tujuh dosen Unisma meraih kategori ilmuwan dengan capaian karya ilmiah berpengaruh. Berdasarkan hasil keputusan tim penjurian, dosen-dosen Unisma mendominasi posisi puncak di beberapa kategori utama.
Pada bidang Agroteknologi, penghargaan peringkat pertama diraih oleh Prof. Agus Sugianto, disusul Prof. Novi Arfarita di peringkat kedua. Pada bidang ilmu sosial, posisi pertama diraih oleh Dr. Hayat.
Selanjutnya pada bidang ilmu alam dan kehidupan, penghargaan peringkat pertama diraih oleh Prof. Nour Athiroh Abdoes Sjakoer. Kemudian, Dr. Sri Wahyuni meraih peringkat ketiga pada bidang pendidikan, dan Dr. Yudi Purnomo meraih peringkat ketiga pada bidang kedokteran dan kesehatan.
Sementara satu dosen Unisma dalam kategori cendekiawan ilmu agama bidang fikih, Dr Shofiatul Jannah, memperoleh peringkat ketiga.
Prof, Junaidi, Rektor Unisma menjelaskan, proses seleksi penerima penghargaan dilakukan melalui sejumlah tahapan penilaian. Tahap awal menggunakan data dari SINTA (Science and Technology Index) milik Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi.
“Dari data dengan rujukan utama SINTA itu terkumpul sekitar 545 orang yang kemudian di-shortlist. Setelah itu dilakukan verifikasi administratif untuk memastikan bahwa mereka benar-benar dosen di perguruan tinggi Nahdlatul Ulama,” ujarnya saat jumpa pers, Rabu (11/3/2026).
Ia menambahkan, setelah tahap verifikasi administratif, proses penilaian dilanjutkan dengan penilaian substantif terhadap karya dan kontribusi para kandidat. Selain itu, penilaian juga mempertimbangkan keberlanjutan kontribusi, reputasi di tingkat nasional maupun internasional, serta integritas personal para kandidat.
“Juga dilihat keberlanjutan kontribusinya, reputasi nasional maupun internasional, serta keteladanan dan integritas personalnya,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Yayasan Unisma sekaligus penerima penghargaan di bidang Agroteknologi, Agus Sugianto mengaku, sejak tahun 2000 dirinya fokus meneliti jamur pangan atau edible mushroom. Agus telah menghasilkan berbagai karya ilmiah yang terindeks di SINTA, mulai dari penelitian, jurnal, artikel, penulisan buku hingga pengabdian kepada masyarakat.
“Mulai tahun 2000 saya sudah masuk di dunia jamur edible. Buku saya sudah sekitar 68, kemudian penelitian dan pengabdian juga fokus di bidang itu,” ujarnya.
Agus menambahkan, penghargaan tersebut menjadi kejutan baginya karena diumumkan pada malam ke-21 Ramadan. Ia pun mempersembahkan penghargaan itu untuk Unisma yang selama ini menjadi tempatnya mengabdi.
“Ini saya persembahkan untuk Unisma yang saya cintai. Saya sudah 62 tahun, mungkin ini hanya sisa tenaga yang bisa saya berikan untuk kampus ini,” tutupnya. (ber/bob)








