Pengguna Kendaraan Listrik di Malang Meningkat, Ratusan Rumah Kini Punya Home Charging

Kota Malang, blok-a.com – Tren penggunaan kendaraan listrik di wilayah Malang Raya terus mengalami peningkatan. PLN UP3 Malang mencatat ratusan pelanggan kini telah memiliki fasilitas home charging atau pengisian daya mandiri di rumah untuk menunjang aktivitas kendaraan listrik sehari-hari.

Manager PLN UP3 Malang, Agung Wibowo, mengatakan masyarakat saat ini semakin mudah mengakses layanan pemasangan home charging melalui aplikasi PLN Mobile. Fasilitas tersebut diperuntukkan khusus bagi pemilik kendaraan listrik.

“Untuk pengajuan mandiri, model SPKLU itu ada banyak. Kalau di rumah mungkin lebih dikenal dengan home charging atau SPKLU mini yang dipasang di rumah-rumah. Itu bisa dicek menggunakan aplikasi PLN Mobile,” ujar Agung.

Ia menambahkan, pelanggan yang memiliki mobil listrik dapat mengajukan pemasangan dengan melengkapi identitas kendaraan, seperti NIK maupun VIN atau nomor rangka kendaraan.

“Jadi khusus yang punya mobil listrik, semacam memiliki SPKLU mandiri di rumah,” tambahnya.

Antusiasme masyarakat Malang terhadap penggunaan kendaraan listrik pun disebut terus tumbuh. Hingga kini, PLN mencatat sekitar 683 pelanggan telah memiliki wall charging atau home charging pribadi di rumah masing-masing.

Agung menjelaskan, konsep home charging sebenarnya tidak berbeda jauh dengan SPKLU umum, hanya kapasitas dayanya lebih kecil sehingga waktu pengisian membutuhkan durasi lebih lama.

“Hanya saja dayanya lebih kecil. Kalau di PLN mungkin bisa melihat dayanya 180.000 Watt. Kalau di rumah, itu rata-rata 7.700. Waktu pengecasannya lebih lama,” jelasnya.

Selain untuk mobil listrik, PLN UP3 Malang kini juga mulai menyediakan fasilitas SPKLU roda dua untuk mendukung penggunaan motor listrik di masyarakat.

“Kami juga sudah membuat di sini SPKLU roda dua. SPKLU roda dua bisa dipakai untuk motor listrik,” tuturnya.

Agung menerangkan, masyarakat diimbau memperhatikan kapasitas listrik rumah sebelum melakukan pengisian daya kendaraan listrik agar tidak mengganggu penggunaan perangkat elektronik lainnya.

“Kembali lagi misalkan di rumah dayanya baru 1.300 Watt, kebetulan misalkan di rumah sudah punya kulkas, sudah punya AC, sering jeglek-jeglek, barangkali bisa menggunakan promo tambah daya agar bisa dipakai untuk ngecas motor listriknya dengan lebih nyaman lagi,” ujarnya.

Agung menilai, salah satu keunggulan utama kendaraan listrik adalah biaya operasional yang jauh lebih hemat dibanding kendaraan berbahan bakar minyak.

“Nah, yang pertama, mungkin kalau melihat sekarang harga mohon maaf Pertamina Dex atau Dexlite sekarang sudah melambung tinggi,” katanya.

Ia pun membagikan pengalamannya menggunakan mobil listrik untuk perjalanan dari Malang menuju Ngawi yang dinilai jauh lebih efisien dari sisi biaya bahan bakar. Ia menjelaskan, penggunaan mobil listrik dinilai lebih murah hingga seperlima dibandingkan menggunakan bahan bakar minyak.

“Ini sebagai contoh saya sudah menggunakan mobil listrik, dari Malang sampai dengan Ngawi di rest area 575 itu biasanya saya ngecas hanya 100 ribu-an. Dibandingkan dengan menggunakan mobil berbasis internal combustion engine (ICE), baik solar maupun bensin, mungkin saya membutuhkan, kalau biasanya, saya membutuhkan pengisian sekitar 500 ribu-an,” ungkapnya.

Di sisi lain, PLN memastikan pengembangan kendaraan listrik akan berjalan beriringan dengan upaya transisi menuju energi bersih. Salah satunya melalui pembangunan pembangkit listrik tenaga surya terapung di Waduk Karangkates.

“Salah satu contohnya ada di Karangkates, ini sedang dibangun pembangkit dari tenaga surya terapung di Waduk Karangkates dengan kapasitas 100 Megawatt,” bebernya.

PLN juga akan terus menunjukkan komitmennya untuk secara bertahap mengurangi penggunaan pembangkit berbahan bakar batu bara dan beralih ke energi ramah lingkungan.

“Jadi intinya jangan khawatir, kedepannya PLN akan memensiunkan pembangkit-pembangkit berbahan batu bara, diganti oleh pembangkit-pembangkit berbahan bakar energi ramah lingkungan,” pungkasnya. (yog/bob)