Sebagian Wilayah Masih Hujan, BMKG Sebut 75 Persen Malang Raya Sudah Masuk Kemarau

20 Desa di Kabupaten Malang Terancam Kekeringan di Musim Kemarau
Situasi kekeringan ladang persawahan di Kabupaten Malang. (blok-a.com/Putu Ayu Pratama S)

Malang Raya, blok-a.com – Meski dalam beberapa hari terakhir hujan masih mengguyur sejumlah wilayah, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi Karangploso Malang memastikan sebagian besar wilayah Malang Raya telah memasuki musim kemarau.

Prakirawan BMKG Stasiun Klimatologi Karangploso Malang, Linda Fitrotul mengatakan, sekitar 75 persen wilayah Malang Raya yang meliputi Kota Malang, Kabupaten Malang, dan Kota Batu saat ini sudah berada pada periode musim kemarau.

Menurutnya, awal musim kemarau di sejumlah wilayah bahkan telah dimulai sejak dasarian pertama atau 10 hari pertama Mei 2026.

“Hampir 75 persen wilayah Malang Raya sudah masuk musim kemarau. Di sebagian wilayah, awal musim kemarau sudah dimulai sejak dasarian pertama bulan Mei,” ujarnya, Jumat (12/6/2026).

Meski demikian, Linda menjelaskan hujan yang masih terjadi di beberapa daerah bukan berarti seluruh wilayah belum memasuki musim kemarau. Sebab, terdapat sejumlah kawasan yang masih berada dalam masa peralihan musim atau memiliki karakteristik cuaca berbeda.

Salah satunya berada di wilayah tenggara Kabupaten Malang yang berbatasan dengan Kabupaten Lumajang. Hingga saat ini, kawasan tersebut masih belum sepenuhnya memasuki musim kemarau.

“Untuk wilayah-wilayah yang memang agak berbeda seperti daerah tenggara Kabupaten Malang yang dekat dengan Lumajang, itu posisinya belum masuk musim kemarau,” jelasnya.

BMKG juga mengingatkan masyarakat untuk mulai mengantisipasi dampak musim kemarau yang diperkirakan berlangsung lebih panjang dan lebih kering dibandingkan kondisi normal.

Berdasarkan hasil analisis BMKG, kondisi tersebut dipengaruhi oleh fenomena El Nino yang diprediksi masih bertahan hingga awal tahun 2027 sehingga berpotensi memperkuat karakteristik musim kemarau di sejumlah wilayah Indonesia, termasuk Malang Raya.

Musim kemarau yang lebih panjang berpotensi memicu sejumlah dampak, mulai dari berkurangnya ketersediaan air bersih, penurunan debit air untuk kebutuhan pertanian, hingga meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan, terutama di kawasan lereng pegunungan.

“Untuk tahun ini, diprediksi musim kemarau akan lebih panjang untuk beberapa wilayah,” pungkasnya.