Kisah Azmi Kenalkan Rengginang Khas Sambigede Malang Ke Penjuru Indonesia

Muhammad Azmi, warga Sambigede Desa Sumberpucung yang memperkenalkan Rengginang melalui e-commerce (blok-a.com / Yogga Ardiawan)
Muhammad Azmi, warga Sambigede Desa Sumberpucung yang memperkenalkan Rengginang melalui e-commerce (blok-a.com / Yogga Ardiawan)

Kabupaten Malang, blok-a.com – Transformasi digital menjadi titik balik bagi usaha mikro yang sebelumnya berjalan terbatas secara lokal. Hal ini dialami Muhammad Azmi (35), pemilik ‘Rengginang Kencana’ asal Desa Sambigede, Kecamatan Sumberpucung, Kabupaten Malang.

Usaha rengginang yang telah dirintis keluarganya sejak lama awalnya hanya dipasarkan secara konvensional, dengan jangkauan penjualan di pasar tradisional dan toko sekitar desa. Keterbatasan metode pemasaran membuat perputaran produk cenderung stagnan.

“Awal mula dibuka bisnis rengginang ini sebenarnya dulu itu dari pihak keluarga sudah ada, jualan rengginang. Tapi untuk metode penjualannya dulu itu masih sulit tidak pakai online awalnya itu,” ungkap Azmi.

Perubahan mulai terjadi pada 2022 saat Azmi mencoba memanfaatkan platform e-commerce. Berawal dari eksplorasi aplikasi Shopee, ia kemudian memutuskan membuka toko online secara mandiri tanpa pengalaman sebelumnya.

“Terus akhirnya saya tidak sengaja itu nemu aplikasi Shopee, buka-buka, scroll-scroll gitu, terus akhirnya saya kepikiran, kalau orang lain bisa jualan di sini, kenapa saya tidak bisa?” tuturnya.

Di tahap awal, penjualan tidak langsung meningkat. Dalam satu minggu, produk yang terjual hanya satu paket, bahkan dalam satu bulan jumlahnya tidak sampai sepuluh.

“Itu pun juga enggak langsung dapat orderan banyak,” katanya.

Dengan proses belajar otodidak, Azmi mulai memahami fitur platform, mulai dari pengelolaan toko, pengemasan, hingga strategi penjualan. Hasilnya mulai terlihat dalam satu tahun terakhir.

“Kebetulan saya kan belajarnya juga otodidak, kan belum terlalu mengeksplor aplikasi Shopee itu sendiri. Terus akhirnya lama-kelamaan saya pelajari, saya pelajari terus satu tahun terakhir ini, Alhamdulillah itu berjalan seperti saat ini,” jelasnya.

Ia menjelaskan, lonjakan signifikan terjadi pada Ramadan 2026. Dalam satu hari, penjualan mampu menembus 1.000 paket, jauh di atas penjualan hari biasa yang berada di kisaran puluhan hingga di bawah 100 paket per hari.

“Kalau pas Ramadan kemarin itu satu hari tembus 1.000 pcs,” ungkap Azmi.

Secara keseluruhan, ia mencatat peningkatan penjualan hingga 20 kali lipat sejak memanfaatkan platform digital.

“Alhamdulillah ya lumayan. Ada 20 kali lipat juga ada itu,” ujarnya.

Seiring peningkatan permintaan, Azmi juga melakukan pengembangan produk. Jika sebelumnya hanya dua varian rasa, kini berkembang menjadi tujuh varian.

“Rasanya cuma bawang sama terasi saja kalau orang tua dulu. Rasa bawang, udang, terasi, ikan, cumi, ketan hitam manis, pandan manis,” katanya.

Dalam strategi pemasaran, Azmi memanfaatkan e-commerce sebagai sarana branding, sekaligus menjaga ekosistem reseller dengan penetapan harga berbeda antara pasar ritel dan grosir.

“Kalau di Shopee itu saya pakai untuk branding say. Jadi mereka bisa jual dengan harga saya di Shopee. Jadi kita tidak mematikan pasar mereka,” terangnya.

Distribusi juga diatur dengan sistem terbatas untuk menjaga stabilitas pasar di tiap wilayah.

“Biasanya satu kota saya kasih satu reseller. Tidak kalau ada permintaan lebih dari dua tidak saya kasih. Biar enggak rebutan,” katanya.

Saat ini, jaringan distribusi Rengginang Kencana telah menjangkau berbagai daerah, mulai dari Sidoarjo, Surabaya, hingga luar pulau seperti Kalimantan dan Papua.

“Paling jauh di Papua. Sampai pengiriman Papua,” ungkapnya.

Peningkatan skala usaha juga berdampak pada penyerapan tenaga kerja. Azmi kini mempekerjakan sekitar tujuh karyawan dari lingkungan sekitar.

“Saat ini kita kalau yang tetap itu ada sekitar tujuh,” ujarnya.

Meski demikian, tantangan masih dihadapi, terutama terkait ketersediaan bahan baku dan modal saat permintaan meningkat.

“Kendalanya yang pertama itu bahan baku, terus juga terkendala modal,” bebernya.

Lonjakan pesanan saat Ramadan bahkan sempat membuatnya ragu, sebelum akhirnya memastikan dan memenuhi permintaan dengan tambahan modal pribadi.

“Saya itu bingung, pesanan ini benar atau tidak. Penipuan atau tidak,” ujarnya.

Dari sisi omzet, pada periode Ramadan Azmi mampu mencatat pendapatan hingga Rp100 juta per bulan. Sementara di luar periode tersebut, omzet berkisar antara Rp10 juta hingga di bawah Rp30 juta.

“Alhamdulillah kalau di Shopee itu lancar” katanya.

Ia juga menilai dukungan layanan logistik turut berperan dalam menjaga kualitas distribusi produk. Peran kurir juga ia sebut berpengaruh untuk memastikan keamanan produk rengginang miliknya.

“Kurirnya itu juga pengertian banget. Datang ke sini, mereka itu SPX gitu, iya ngasih tau, ‘Mas, ini paketnya agak dirapiin sedikit,’ kayak gitu,” tuturnya.

Ke depan, Azmi bercita-cita untuk membeli sebuah mesin pemanas atau oven untuk usaha rengginang miliknya. Menurutnya, kebutuhan akan oven itu untuk memenuhi orderan yang harus diselesaikan tepat waktu.

“Sejauh ini usaha milik saya hanya mengandalkan sinar matahari. Jika mendung, produksi yang harus selesai tiga hari jadi molor sampai lima hari atau satu minggu. Makanya saya ingin punya mesin oven,” tandasnya.

Jika sudah tidak bergantung dengan cuaca, Azmi berkomitmen untuk terus mengembangkan usaha rengginang khas Sambigede ini. Ia menargetkan untuk melebarkan rengginang miliknya hingga ke seluruh pelosok Nusantara.

“Keinginannya sih satu kota satu seller. Rengginang Sambigede bisa dikenal hingga pelosok negeri,” pungkasnya. (yog)