Festival Tanjung Tempoe Doloe #2 Hidupkan Suasana Kampung Era 80-an di Tanjungrejo

Festival Tanjung Tempoe Doeloe #2 hidupkan suasana kampung era 80-an di Tanjungrejo (foto: blok-a.com / M Berril Labiq)
Festival Tanjung Tempoe Doeloe #2 hidupkan suasana kampung era 80-an di Tanjungrejo (foto: blok-a.com / M Berril Labiq)

Kota Malang, blok-a.com – Suasana kampung era 1980-an kembali dihidupkan warga RW 03 Tanjungrejo, Kota Malang melalui Festival Tanjung Tempoe Doloe #2. Tak hanya menghadirkan hiburan, festival ini juga menjadi ruang bagi UMKM warga sekaligus mengangkat kembali cerita tentang kawasan Tanjung.

Festival Tanjung Tempoe Doloe #2 digelar selama tiga hari, 3–5 September 2026, mulai pukul 16.00 hingga 22.00 WIB. Kegiatan dipusatkan di Poros Gang 9 Tanjungrejo RW 03 atau Balai Sarbini dan terbuka gratis untuk masyarakat.

Memasuki tahun kedua, festival tersebut mengalami perkembangan dibanding pelaksanaan perdana pada 2025. Salah satunya terlihat dari jumlah tenant UMKM yang ikut berpartisipasi.

Ketua Pelaksana Festival Tanjung Tempoe Doloe #2, Ida mengatakan, pada pelaksanaan pertama panitia hanya menghadirkan sekitar 12 tenant UMKM. Tahun ini, jumlah tersebut meningkat hingga 33 tenant.

“Konsepnya kita tempo tahun 80-an. Jadi untuk acaranya seperti tahun kemarin. Cuma sekarang alhamdulillah lebih berkembang karena ada penambahan lagi,” kata Ida, Sabtu (5/9/2026).

Awalnya, panitia menargetkan 30 tenant UMKM untuk festival tahun ini. Namun, antusiasme pelaku usaha membuat jumlah tersebut bertambah tiga tenant.

“Target kita di awal 30 tenant yang mana tercapai, malah melebihi dari kapasitas. Ada tambahan tiga tenant,” ujarnya.

Sebagian tenant menjajakan kuliner dengan konsep jajanan tempo dulu. Pengunjung bisa menemukan makanan seperti cenil, lupis, jagung, polo pendem hingga gulali. Ada pula minuman seperti wedang jahe dan wedang uwuh.

Meski begitu, panitia tidak sepenuhnya membatasi tenant dengan makanan tempo dulu. Sekitar separuh tenant tetap diperbolehkan menjajakan makanan kekinian.

“Memang hampir 50-50. Lima puluh persen makanan jajan tempo dulu, yang 50 persen modern,” jelas Ida.

Konsep tempo dulu juga terlihat dari rangkaian kegiatan yang disiapkan. Festival ini menghadirkan sejumlah pertunjukan seni. Pada pembukaan, Karang Taruna RW 03 menampilkan Tari Topeng Malangan, kemudian dilanjutkan penampilan Budi Ayoga dengan Tari Nusantara dan Wisanggeni Perkusi.

Selain pertunjukan, warga juga dilibatkan melalui sejumlah perlombaan antar-RT. Mulai dari lomba vlog dan lomba fashion show yang diikuti perwakilan RT 1 hingga RT 6 di lingkungan RW 03.

Pada hari kedua, lomba vlog memasuki tahap penjurian dan dilanjutkan dengan fashion show bertema busana tahun 1980-an. Pesertanya pun bukan anak muda, melainkan pasangan suami istri yang menjadi perwakilan masing-masing RT.

“Untuk fashion show model tahun 80-an, pesertanya bukan anak muda, tapi pasutri, pasangan suami istri dari perwakilan RT,” kata Ida.

Hari terakhir festival kemudian diisi dengan pembagian hadiah untuk para pemenang berbagai perlombaan yang digelar selama rangkaian kegiatan. Ida menyebut, festival ini mendapat dukungan dari anggota DPRD Kota Malang, Suyadi dari Partai NasDem. Dukungan tersebut, lanjutnya, termasuk bantuan dana untuk pelaksanaan Festival Tanjung Tempoe Doloe #2.

“Yang hari terakhir, kita mendatangkan Pak Suyadi. Support-nya sangat besar. Kemarin kita diberikan kucuran dana juga untuk pelaksanaan di Tempo Doeloe ini,” ujarnya.

Antusiasme masyarakat juga terlihat dari jumlah pengunjung selama festival berlangsung. Ida menyebut, sekitar 500 orang datang pada hari pertama dan jumlah yang relatif sama kembali hadir pada hari kedua.

Memasuki hari terakhir, jumlah pengunjung diperkirakan meningkat hingga dua kali lipat. Ida memperkirakan sekitar 1.000 orang keluar-masuk kawasan festival sepanjang Sabtu (5/9/2026).

“Kalau kemarin itu sekitar 500 orang, hari pertama juga kurang lebih 500. Kalau hari ini kita perkirakan bisa sampai 1.000 orang yang keluar masuk,” kata Ida.

Festival ini sendiri berangkat dari upaya warga menghidupkan kembali suasana kampung tempo dulu. Kawasan Tanjung yang kini dikenal sebagai Jalan I.R. Rais, Kecamatan Sukun, memiliki kaitan dengan keberadaan pohon tanjung yang dahulu banyak tumbuh di kawasan tersebut.

Menurut pemerhati sejarah setempat, penamaan sejumlah wilayah di Malang pada masa lalu berkaitan dengan jenis tanaman yang dominan di kawasan tersebut. Selain Tanjung, terdapat pula Blimbing dan Sukun yang dikaitkan dengan nama tanaman.

Karena itu, suasana tempo dulu yang diangkat dalam festival tidak hanya diterapkan melalui dekorasi, tetapi juga lewat kuliner, busana, pertunjukan seni, hingga keterlibatan warga dalam berbagai kegiatan. (ber)

Jurnalis sekaligus videographer Blok-a.com yang memfokuskan liputan pada isu pemerintahan, paeristiwa, kriminal dan pendidikan di Malang Raya.