Kota Malang, blok-a.com – Nama Buk Gluduk sudah lama dikenal warga Malang sebagai penanda kawasan jembatan di sekitar Kampung Warna-Warni, dekat titik nol kota. Di balik nama unik tersebut, tersimpan sejarah yang berasal dari pengaruh bahasa Belanda hingga bunyi khas yang muncul dari aktivitas transportasi di masa lalu.
Sejarawan Malang, Agung Buana, menjelaskan bahwa istilah “Buk” berasal dari kata dalam bahasa Belanda, yakni brug yang berarti jembatan.
“Karena lidah Jawa, kata brug itu kemudian berubah pengucapannya menjadi ‘buk’,” jelas Agung.
Di lokasi tersebut, terdapat dua jembatan yang berdampingan. Pertama adalah jembatan jalan raya yang kini berada di kawasan Kampung Warna-Warni. Kedua adalah jembatan rel kereta api yang melintang di atas aliran Sungai Brantas.
Menurut Agung, masyarakat memiliki persepsi yang berbeda terkait jembatan mana yang dimaksud sebagai Buk Gluduk.
“Kebanyakan orang menyebut jembatan kereta api sebagai Buk Gluduk, tapi ada juga yang menganggap jembatan jalan raya itu yang dimaksud,” ujarnya.
Nama “Gluduk” sendiri tidak lepas dari suara yang dihasilkan saat kendaraan melintas di atas jembatan tersebut. Pada jembatan kereta api, suara itu muncul dari roda kereta yang melewati bantalan kayu di rel.
“Kalau kereta lewat itu bunyinya ‘gluduk-gluduk’ karena melewati kayu-kayu di rel,” terang Agung.
Namun, suara serupa juga pernah terdengar dari jembatan jalan raya pada masa lalu. Sebelum diaspal, jembatan tersebut kerap dilalui dokar atau cikar dengan roda kayu. Dari dua sumber bunyi inilah, masyarakat kemudian menyematkan nama “Gluduk” pada jembatan tersebut.
“Dulu dokar lewat situ juga bunyinya ‘gluduk-gluduk’,” tambahnya.
Dari sisi sejarah, jembatan kereta api merupakan yang lebih tua. Infrastruktur ini diperkirakan telah dibangun sejak tahun 1890-an oleh pemerintah kolonial Belanda, seiring pengembangan jalur transportasi kereta api di Malang.
Sementara itu, jembatan jalan raya dibangun setelahnya, yakni pada awal 1900-an.
“Jembatan Brantas yang jalan raya itu lebih muda dibanding jembatan kereta api,” ungkap Agung.
Perbedaan usia ini juga memperkuat anggapan sebutan Buk Gluduk awalnya merujuk pada jembatan kereta api yang lebih dulu dikenal masyarakat.
Hingga kini, nama Buk Gluduk tetap digunakan oleh warga Malang sebagai penanda kawasan, meskipun kondisi fisik jembatan telah mengalami banyak perubahan.
Nama tersebut menjadi bukti bagaimana bahasa kolonial, perkembangan transportasi, serta pengalaman sehari-hari masyarakat berpadu menjadi identitas lokal yang terus bertahan.
“Nama itu muncul dari kebiasaan masyarakat sendiri, dari apa yang mereka lihat dan dengar,” pungkas Agung. (yog/bob)







