Boncos Ratusan Juta, Event Bikinan Mahasiswa di Kota Malang Jadi Momok Vendor

“Kurang professional, ada sekitar 5 event mahasiswa yang saat ini kami belum mendapatkan pembayaran 100 pesen. Padahal eventnya saat terselenggara itu ramai, dan tiketnya dari perhitungan kami bisa menutup semua biaya,”

Boncos Ratusan Juta, Event Bikinan Mahasiswa di Kota Malang Jadi Momok Vendor
Ilustrasi salah satu event yang digelar mahasiswa di Kota Malang

Kota Malang, blok-a.com – Salah satu hal yang menjadi daya tarik di Kota Malang adalah banyaknya event yang diselenggarakan oleh mahasiswa, baik itu terafiliasi dengan kampus maupun yang diselenggarakan secara eksternal.

“Mahasiswa memiliki selera yang sangat sesuai dengan pasar penikmat event, baik dari Kota Malang sendiri maupun daerah sekitar. Makanya event yang mereka selenggarakan itu biasanya ramai,” terang Tian Wicaksono, salah satu praktisi vendor penyedia perlengkapan event.

Namun di balik hingar-bingar berbagai event yang diselenggarakan tersebut, Tian mengaku profesionalitas para penyelenggara acara, dalam hal ini mahasiswa, masih belum sesuai harapannya.

“Kurang professional, ada sekitar 5 event mahasiswa yang saat ini kami belum mendapatkan pembayaran 100 pesen. Padahal eventnya saat terselenggara itu ramai, dan tiketnya dari perhitungan kami bisa menutup semua biaya,” terang Tian.

Rizky Mulya, salah satu vendor yang juga kerap bekerja sama dengan Tian mengaku ia juga berkali-kali boncos saat menggarap event mahasiswa.

“Rata-rata itu ada salah satu panitia, atau beberapa orang yang terlibat, mereka kabur dari tanggung jawab. Kaburnya itu bawa duit yang bisa buat pembayaran, jadi ya kami kejar mereka,” terang Rizky.

Nilainya tidak main-main. Kedua vendor tersebut mengaku saat ini masing-masing memiliki ‘piutang’ dengan besaran puluhan hingga ratusan juta.

Hal ini menjadi dilemma untuk para vendor, karena di satu sisi event yang diselenggarakan oleh mahasiswa adalah salah satu sumber dana terbesar sehari-hari mereka. Namun dengan banyaknya kasus tersebut, akhirnya mereka harus memutar otak agar tidak rugi.

“Kami sekarang menguliknya ke bagaimana GS (guest star atau bintang tamu) mendapatkan hak mereka. Kalau saya dengar GS-nya belum lunas, wah ini Alamat bodong, jadi kami tolak. DP (down payment atau uang muka) venue juga kita lihat,” tutur Tian.

Selain itu, para pihak vendor juga berusaha mengulik bagaimana langkah perijinan yang telah panitia tempuh.

“Masalahnya di masa-masa pemilu kemarin perijinan itu banyak yang ter-delay, mepet-mepet. Jadi kalau kita rasa terhambat perijinannya, wah Alamat bodong juga,” tutur Tian.

Mereka berpesan, untuk para mahasiswa yang berniat menyelenggarakan event berbagai skala, tiga hal yang mereka ulas di atas harus diperhatikan. Dengan begitu, akan ada win-win solution dari pihak EO dan vendor.

“GS, Venue, sama perijinan. Tolong para mahasiswa konsentrasi ke tiga hal itu. Dijamin lancar nanti eventnya, gak usah mikir pendapatan tiket. Pasar di Kota Malang ini cukup tinggi untuk masalah pemenuhan kuota tiket,” pesan Tian.

Exit mobile version