Bukan Sekadar Perumahan, Sawojajar Malang Simpan Jejak Rencana Bandara Era Jepang

Peta Belanda tahun 1882 menunjukkan kawasan yang kini dikenal sebagai Sawojajar masih bernama Wangsan. (istimewa)
Peta Belanda tahun 1882 menunjukkan kawasan yang kini dikenal sebagai Sawojajar masih bernama Wangsan. (istimewa)

Kota Malang, blok-a.com – Kawasan Sawojajar yang kini dikenal sebagai salah satu permukiman terbesar di Kota Malang ternyata pernah direncanakan menjadi lokasi bandara pada masa pendudukan Jepang. Meski rencana itu tak pernah berkembang menjadi bandara permanen, jejak sejarahnya disebut masih dapat ditelusuri melalui bentang kawasan yang kini menjadi permukiman.

Sejarawan Malang, Agung H Buana, mengatakan rencana pembangunan bandara tersebut muncul karena Jepang menilai Bandara Bugis atau yang kini dikenal denganBandara Abdulrachman Saleh terlalu jauh dari pusat Kota Malang.

“Pada saat Jepang masuk, mereka ingin membuat bandara di tengah kota. Waktu itu bandara masih berada di Bugis. Menurut Jepang lokasinya terlalu jauh, sehingga direncanakan pembangunan bandara tambahan,” kata Agung kepada blok-a.com, Jumat (31/7/2026).

Namun, bandara yang direncanakan itu bukan berupa landasan pacu beraspal. Agung menjelaskan kawasan tersebut saat itu masih berupa tegalan dengan landasan rumput yang membentang dari kawasan Ruko Wow hingga Dirgantara.

“Bukan sawah dan bukan aspal. Jalurnya hanya rumput yang memanjang dari Ruko Wow sampai kawasan Dirgantara,” ujarnya.

Menurut Agung, pembangunan tersebut kemudian sempat dilanjutkan oleh Belanda. Bahkan, pesawat militer Belanda disebut pernah mendarat di lokasi itu pada 1947. Memasuki akhir 1970-an, kawasan tersebut terbengkalai sebelum akhirnya dikembangkan oleh Perum Perumnas sebagai kawasan hunian bagi masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah.

“Pembangunan Perumnas dilakukan bertahap dan terus berkembang hingga sekitar tahun 2000-an mengikuti kebutuhan hunian di Kota Malang,” ujarnya.

Perkembangan kawasan itu kemudian melahirkan Sawojajar II yang berbatasan langsung dengan wilayah Kabupaten Malang. Dari sanalah masyarakat mulai mengenal pembagian kawasan Sawojajar I dan Sawojajar II seperti saat ini.

Selain diperuntukkan bagi masyarakat umum, sebagian lahan juga dialokasikan sebagai permukiman bagi veteran, veteran penyandang disabilitas, hingga pejuang kemerdekaan yang belum memiliki tempat tinggal. Agung menyebut keberadaan Komplek Dirgantara menjadi salah satu jejak pembagian lahan tersebut.

“Di sana juga ada tanah angkatan udara, makanya ada Komplek Dirgantara. Itu merupakan bentuk kompensasi untuk angkatan udara,” jelasnya.

Selain sejarah bandara, Agung juga menyoroti asal-usul kawasan Sawojajar yang selama ini kerap dikaitkan dengan pohon sawo yang tumbuh berjajar. Menurutnya, penamaan tersebut justru tergolong baru dan tidak ditemukan dalam peta-peta kolonial Belanda.

Di peta Belanda tahun 1882, kata Agung, kawasan itu masih tercatat sebagai Wangsan dan Sundeng. Sementara pada peta tahun 1923 hanya diberi keterangan sebagai kawasan pertanian. Nama Sawojajar baru mulai dikenal setelah kawasan tersebut dikembangkan menjadi permukiman pada akhir 1970-an.

“Nama Sawojajar belum ada. Pada peta 1882 yang muncul justru Wangsan dan Sundeng, sedangkan pada peta 1923 hanya ditandai sebagai daerah pertanian,” katanya.

Agung menuturkan, nama Wangsan diduga memiliki keterkaitan dengan istilah wangsa pada masa klasik, yakni sebutan bagi keluarga bangsawan atau keluarga kerajaan. Dugaan itu diperkuat dengan keberadaan kawasan Lesanpuro, Madyopuro, dan Sekarpuro yang berada di sebelah timur Wangsan.

“Daerah yang memakai akhiran ‘pura’ biasanya berkaitan dengan tempat tinggal keluarga bangsawan pada masa klasik. Karena itu, Wangsan kemungkinan berarti lahan milik wangsa atau keluarga bangsawan,” terangnya.

Ditambahkannya, penataan Sawojajar yang berkembang secara bertahap juga membentuk pola jalan yang khas. Banyak ruas jalan memiliki bentuk serupa sehingga kawasan tersebut kerap disebut menyerupai labirin oleh masyarakat.

“Jalannya banyak yang mirip sehingga orang sering merasa seperti berada di labirin,” pungkasnya. (ber/bob)

Exit mobile version