Kota Malang, blok-a.com – Keberadaan Patung Chairil Anwar di Kota Malang bukan sekadar monumen biasa, melainkan simbol penghormatan atas peran sejarah sang penyair dalam momentum penting perjalanan bangsa. Patung yang berada di kawasan Kayutangan Heritage atau Jalan Basuki Rachmad ternyata menjadi bukti perjuangan cikal bakal sistem parlementer di Indonesia.
Chairil Anwar adalah penyair terkemuka Indonesia yang dikenal sebagai pelopor Angkatan ’45 dan puisi modern Indonesia. Dijuluki sebagai “Si Binatang Jalang”, ia menulis sekitar 96 karya, termasuk 70 puisi yang temanya berfokus pada pemberontakan, individualisme, eksistensialisme, dan perjuangan kemerdekaan.
Sejarawan Malang, Agung Buana menjelaskan patung tersebut dibangun sebagai bentuk penghormatan masyarakat Malang terhadap Chairil Anwar yang pernah hadir dalam Kongres Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) pada 1947 yang digelar di Malang.
“Patung Chairil Anwar ini dibangun sebenarnya adalah bagian dari penghormatan kepada sosok Chairil Anwar oleh masyarakat Malang,” ujarnya.
Menurutnya, kehadiran Chairil Anwar dalam Kongres KNIP menjadi momen penting karena forum tersebut merupakan cikal bakal sistem parlementer di Indonesia. Dalam kongres itu, lanjut Agung, KNIP mempunyai posisi strategis di dalam penyusunan kebijakan yang digunakan untuk mengantisipasi agresi militer Belanda.
“Kongres KNIP inilah yang menjadi penanda bahwa Malang itu mempunyai posisi strategis di dalam penyusunan kebijakan tentang parlementer. Jadi KNIP itu sebetulnya adalah cikal bakal berdirinya parlemen di Indonesia,” jelasnya.
Agung menambahkan, monumen Chairil Anwar sendiri diketahui dibangun sekitar tahun 1955 atas prakarsa tokoh Malang, Achmad Hudan Dardiri. Hudan Dardiri sendiri merupakan seorang seniman dan birokrat yang pernah bertugas di Malang dan pernah menjabat sebagai Bupati Jombang.
“Kalau dibangunnya monumen Chairil Anwar itu tahun 1955 kalau nggak salah, dan dibangun atas prakarsa Pak Hudan Dardiri,” tambahnya.
Tak hanya itu, kisah menarik juga terjadi saat pelaksanaan sidang KNIP. Chairil Anwar disebut melakukan aksi protes unik karena jalannya sidang yang berlarut-larut.
“Chairil Anwar ini keluar dari ruangan sidang, kemudian membuka bajunya, bertelanjang dada, dan berteriak-teriak membacakan puisinya di luar sebagai bentuk protes,” ungkap Agung.
Aksi tersebut dilakukan di depan Gedung Societeit Concordia kini kawasan Alun-Alun Malang yang kemudian menjadi lokasi berdirinya patung Chairil Anwar saat ini. Meski tidak diketahui pasti puisi apa yang dibacakan saat itu, Agung menegaskan aksi tersebut mencerminkan sikap kritis seorang seniman terhadap situasi bangsa.
“Yang jelas dia membaca puisi karena dia seorang seniman,” katanya.
Ia menerangkan, aksi Chairil Anwar tersebut juga menjadi dorongan moral agar para tokoh bangsa segera mengambil keputusan penting di tengah situasi genting menjelang Agresi Militer Belanda.
“Chairil Anwar ini mendorong agar para parlementarian itu segera menyelesaikan sidangnya, karena saat itu kondisi negara sedang genting,” pungkasnya.
Terlepas dari keakuratan dokumen sejarahnya, patung Chairil Anwar ini telah menjadi ikon Kota Malang, terlebih di kawasan Kayutangan Heritage. Patung ini menjadi simbol penyemangat anak-anak muda untuk berjuang membangun negeri. (yog/bob)








