Kabupaten Malang, blok-a.com – Di tengah hiruk pikuk perempatan underpass Karanglo, Kabupaten Malang, puluhan pedagang asongan bertahan mencari nafkah. Salah satunya adalah Abdul Qodir, yang sejak 2017 menggantungkan hidup dari berjualan makanan ringan di jalanan.
Qodir yang berdomisili di Kedungkandang ini mengaku mulai berjualan setelah sebelumnya bekerja di sektor informal, mulai dari restoran hingga berdagang pakaian. Sebelumnya, ia pernah menjadi pedagang sepatu dan jaket di salah satu mall yang ada di Kota Malang.
“Saya pindah ke Malang ini sekitar tahun 2010. Sebelumnya kerja di Dinoyo, terus di Gajah Mada jualan jaket sama sepatu,” katanya.
Setelah tujuh tahun menghabiskan waktu sebagai pekerja di sektor informal, Qodir menyebut penghasilan dari sektor tersebut tak mampu untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Ia akhirnya nekat menjadi pedagang asongan setelah mendengar hasil jerih payah dari temannya.
“Habis itu ikut-ikut teman jualan di sini, ternyata lumayan buat sandang pangan,” ujarnya.
Setiap harinya, Qodir mulai berjualan sekitar pukul 09.00 hingga sore hari. Dalam kondisi normal, penghasilannya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
“Kalau hari normal sampailah Rp200 ribu sehari,” jelasnya.
Namun, momen yang paling dinanti adalah saat menjelang Lebaran dan Tahun Baru. Pada periode tersebut, pendapatannya bisa meningkat drastis.
“Kalau Lebaran bisa sampai enam ratus ribu sehari. Bisa dua sampai tiga kali lipat dari hari biasa,” ungkapnya.
Produk yang dijual pun beragam, mulai dari tahu goreng, telur puyuh, hingga manisan. Dalam sehari saat jelang lebaran, ia bisa menjual hingga 100 bungkus tahu saja.
Meski terlihat menjanjikan, pekerjaan sebagai pedagang asongan bukan tanpa tantangan. Cuaca menjadi faktor utama yang kerap menghambat aktivitasnya.
“Tantangannya cuma cuaca, panas sama hujan. Kalau panas masih bisa, tapi kalau hujan itu yang berat,” katanya.
Ia bahkan harus bertahan di lokasi saat hujan turun, menunggu reda karena tidak memiliki tempat berteduh yang memadai.
“Kalau hujan ya nunggu reda, habis itu lanjut jualan lagi,” imbuhnya.
Namun, lanjut Qodir, ketika hujan melanda kawasan Karanglo dari pagi hingga sore, penghasilan yang tak menentu pernah dirasakan olehnya. Bahkan, pernah dirinya tidak laku sama sekali dalam sehari.
“Pernah hujan sehari full itu hanya laku lima bungkus tahu,” tuturnya.
Di lokasi tersebut, menurut keterangan Qodir terdapat sekitar 50 pedagang asongan dengan latar belakang berbeda, bahkan ada yang berasal dari luar daerah seperti Pasuruan.
Meski bekerja di jalanan dengan segala keterbatasan, Qodir mengaku bersyukur karena hasil jualannya masih bisa mencukupi kebutuhan hidupnya.
“Cukup, alhamdulillah,” pungkasnya. (yog/bob)








