Kota Malang, blok-a.com – Nama Kasin yang kini dikenal sebagai salah satu kawasan padat penduduk di Kota Malang ternyata menyimpan sejarah panjang yang berkaitan erat dengan perkembangan Islam di Malang. Bahkan, kawasan ini juga disebut memiliki peran penting dalam masa perjuangan kemerdekaan melalui para ulama dan pasukan Hizbullah.
Sejarawan Malang, Agung Buana, menjelaskan bahwa nama Kasin sudah tercatat dalam peta kolonial Belanda sejak tahun 1882 sebagai sebuah dusun atau desa.
“Kalau melihat peta tahun 1882, Dusun Kasin atau Desa Kasin itu sudah ada,” jelas Agung, Minggu (7/6/2026).
Menurutnya, perkembangan Kasin tidak bisa dilepaskan dari penyebaran agama Islam di wilayah Malang. Salah satu tokoh yang disebut berperan dalam perkembangan kawasan tersebut adalah Pangeran Fadhludin Banten yang kemudian dikenal masyarakat sebagai Mbah Muhammad Djalalain.
Mbah Muhammad Djalalain disebut menerima sebidang tanah dari warga setempat yang kemudian digunakan untuk membangun surau sederhana beserta kamar-kamar santri. Surau tersebut diberi nama Al Khasinu yang berarti tempat yang baik.
“Langgar itu menjadi pusat pembelajaran agama Islam bagi masyarakat sekitar,” ujar Agung.
Dalam mengajarkan agama Islam, Mbah Muhammad Djalalain menekankan ajaran mo limo, yakni larangan melakukan madon (zina), main (judi), mabuk, maling, dan madat. Ajaran tersebut diyakini menjadi fondasi kehidupan masyarakat Kasin pada masa itu.
Setelah wafat, Mbah Muhammad Djalalain dimakamkan di belakang langgar Kasin yang kini menjadi Masjid Al-Mukarammah. Perjuangannya kemudian diteruskan oleh Abdul Mukti yang didatangkan dari Pandaan dan dikenal luas sebagai ulama berpengaruh di Malang.
Selain menjadi pusat perkembangan Islam, Kasin juga memiliki peran penting pada masa perjuangan kemerdekaan. Agung menyebut banyak anggota pasukan Hizbullah asal Malang yang berasal dari kawasan tersebut.
“Banyak pejuang Hizbullah dari Kasin. Sebelum berangkat ke Surabaya, mereka mendapat wejangan dari para kyai di sana,” ujarnya.
Menurut Agung, para ulama di Kasin saat itu dikenal memberikan dukungan spiritual kepada para pejuang yang akan bertempur.
“Istilahnya dulu diisi dulu. Para kyai memberikan doa, wejangan, bahkan jimat sebagai penyemangat bagi para pejuang,” lanjutnya.
Seiring perkembangan wilayah, nama Kasin kini terbagi menjadi beberapa kawasan seperti Kasin Jaya, Kasin Kidul, Kasin Badek, dan Kasin Ban. Sebagian nama tersebut muncul dari kondisi lingkungan yang berkembang di masyarakat.
Agung menjelaskan, Kasin Badek berasal dari kawasan yang berada di dekat aliran sungai yang dahulu sering mengeluarkan bau tidak sedap. Sementara Kasin Ban berkembang karena adanya aktivitas usaha ban di wilayah tersebut.
Di luar versi yang berkembang mengenai sejarah Islam, Agung juga menyebut ada pendapat lain yang mengaitkan nama Kasin dengan nama tanaman yang sudah dikenal masyarakat Malang sejak abad ke-19.
“Di Malang banyak nama kawasan yang berasal dari nama tanaman, seperti Sukun, Tanjung, dan Kasin. Karena itu ada juga yang mengaitkan Kasin dengan nama tumbuhan,” jelasnya.
Meski memiliki beberapa versi asal-usul penamaan, Agung menegaskan bahwa Kasin merupakan salah satu kawasan yang memiliki peran penting dalam perkembangan Islam dan perjuangan kemerdekaan di Kota Malang.
“Kalau ditarik garis besarnya, Kasin memang sangat erat kaitannya dengan perkembangan Islam dan perjuangan masyarakat Malang pada masa kemerdekaan,” pungkasnya. (ber/bob)




