Kota Malang, Blok-a.com – Seorang seniman muda Kota Malang Indra Setiawan, memilih untuk memelihara ayam di rumahnya yang terletak di dalam perumahan Citra Omah Ndeso, Kecamatan Kedungkandang.
Memelihara ayam di sebuah perumahan tentu masih bukan hal yang lazim ditemukan di Kota Malang. Namun, dengan berbagai teknik dan ilmu yang ia pelajari, ternyata hal ini sangat bisa dilakukan.
Menurut Indra, keputusannya memilih ayam sebagai hewan peliharaan didasari oleh kemudahan dalam perawatan serta ketersediaan pakannya. Selain itu, ia mengaku setiap hari dapat menikmati telur gratis dari ayam-ayamnya.
“Ayam itu peliharaannya mudah, makan apapun mau. Nasi sisa, sayur, pemakan segala. Kami merawat dan membesarkannya, sebagai balasannya, ayam memberikan kami telur,” jelas pria berambut keriting itu.
Dengan luas halaman rumah yang hanya sekitar 3×6 m², Indra sempat berhasil memelihara hingga 58 ayam. Tapi karena keterbatasan tempat, mengingat ayam adalah hewan yang sangat produktif dalam berkembang biak, sebagian besar ayam telah didistribusikan.
Ia membagikannya ke berbagai tempat, termasuk dijual, diberikan kepada keluarga, atau ditukar dengan hewan peliharaan lain seperti burung dan kura-kura. Saat ini, di rumah kecilnya itu masih tersisa sekitar 25 ayam.
“Kami menggunakan kandang-kandang untuk setiap ayam agar mereka tidak stress. Kandang-kandang ini juga dibuat sedemikian rupa untuk memberikan ruang gerak yang cukup bagi ayam,” terangnya.
Indra menjelaskan bahwa mengelola ayam di perumahan memerlukan strategi khusus untuk menghindari konflik dengan tetangga terutama karena masalah limbahnya.
Tentang pengelolaan limbah ayam, Indra menekankan bahwa kandang yang mereka buat dirancang sedemikian rupa sehingga ayam dapat mengelola limbahnya sendiri bahkan limbah rumah tangga yang diproduksi oleh Indra.
“Ayam bisa memproses limbah sisa daun-daunan dan limbah rumah tangga kami. Limbah sisa makanan dan poop ayam kami langsung kami kompos di depan rumah jadi tidak bau,” katanya.
Tidak hanya ayam biasa, Indra juga memelihara beberapa ayam unik, seperti ayam hutan, ayam bekisar, ayam phoenix, dan ayam cemani.
“Biasanya kami mencari informasi melalui Facebook, di grup-grup khusus. Kemudian transaksi dilakukan secara langsung, COD,” jelasnya.
Meskipun sebagian besar ayam yang dipelihara tidak dimakan, Indra pernah mencoba menemukan pengalaman dengan mengonsumsi ayam jenis cemani sekali waktu.
“Kami penasaran dengan mitos tentang ayam cemani yang katanya darahnya hitam, tulangnya hitam, dagingnya hitam. Ternyata benar, tapi hanya sekali karena kami lebih memilih untuk memelihara mereka,” cerita seniman yang karyanya tentang Papua baru saja dinotice oleh Najwa Shihab ini.

Indra juga berpesan agar pemuda di Kota Malang jangan ragu untuk memelihara ayam. Ilmu-ilmu untuk memelihara ayam di tempat terbatas sudah banyak bertebaran di internet.
Selain dapat memberikan telur gratis setiap hari, indra juga mengatakan sifat herbivora ayam dapat mengurangi limbah rumah tangga sehingga lingkungan menjadi semakin bersih. Bahkan ia mengatakkan bahwa suara ayam dan tingkah laku mereka dapat menjadi sarana healing.
“Jangan ragu untuk memulai. Ayam bukan hanya memberikan telur, tetapi juga membuat kita merasa sejahtera, baik secara ekonomi maupun emosional,” ungkapnya. (art/bob)








