Kabupaten Malang, blok–a.com – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Malang bersama Portal Kesehatan Masyarakat (Portkesmas) dan Kelompok Kerja Risk Communication and Community Engagement (Pokja RCCE) menggelar Lokakarya Edukasi Pencegahan Penyakit Zoonosis di Puskesmas Tumpang pada Kamis (23/7/2026). Kegiatan yang digelar selama dua hari ini bertujuan meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai penyakit zoonosis atau penyakit yang dapat menular dari hewan ke manusia sekaligus memperkuat upaya pencegahannya.
Lokakarya tersebut melibatkan berbagai organisasi perangkat daerah, instansi kesehatan, organisasi kemasyarakatan, PMI, laboratorium kesehatan, puskeswan, puskesmas, hingga jurnalis. Seluruh peserta didorong memperkuat komunikasi risiko, meningkatkan partisipasi masyarakat, serta membangun koordinasi lintas sektor dalam menghadapi ancaman penyakit zoonosis.
Selain memperkuat jejaring antarlembaga, kegiatan ini juga membekali para promotor kesehatan dengan kemampuan komunikasi interpersonal agar mampu mengedukasi masyarakat mengenai perilaku pencegahan. Peserta juga mendapatkan penguatan dalam menghadapi penyebaran informasi hoaks terkait wabah penyakit zoonosis.
Plt Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kabupaten Malang, dr. Titis Ari Respatilatsih, menegaskan kesiapsiagaan harus dibangun jauh sebelum terjadi kedaruratan kesehatan.
“Kesiapsiagaan menghadapi penyakit zoonosis harus dibangun jauh sebelum terjadi kedaruratan kesehatan. Keberhasilan pengendalian penyakit tidak hanya bergantung pada respons saat wabah terjadi, tetapi juga pada masa tenang atau saat belum ada kasus serta penguatan komunikasi risiko, surveilans, dan kolaborasi lintas sektor sejak dini,” katanya.
Berdasarkan data Surveilans Kesehatan Daerah (SKDR) periode 2023 hingga 22 Juli 2026, Kabupaten Malang tidak mencatat kasus flu burung pada manusia maupun antraks dalam lima tahun terakhir. Namun, kewaspadaan tetap diperlukan karena kasus leptospirosis dan gigitan hewan penular rabies (GHPR) masih berfluktuasi.
Pada 2023 tercatat tiga kasus leptospirosis dan 24 kasus GHPR. Sementara hingga 22 Juli 2026, jumlahnya meningkat menjadi empat kasus leptospirosis dan 127 kasus GHPR. Meski demikian, Kabupaten Malang masih bukan daerah endemis rabies.
Mewakili Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Malang, Plt Kabid Kesehatan Hewan dan Kesmavet, drh. Lucia Endah Sukesi, menjelaskan berbagai penyakit zoonosis dapat dicegah apabila masyarakat memahami cara penularannya.
“Rabies dapat ditularkan melalui gigitan maupun cakaran anjing, kucing, dan monyet. Risiko penularan dapat ditekan melalui vaksinasi rutin hewan peliharaan setiap tahun,” ujarnya.
Saat musim hujan, masyarakat juga diminta mewaspadai leptospirosis yang dapat menyebar melalui air yang tercemar urine tikus. Penggunaan alas kaki tertutup, seperti sepatu bot saat beraktivitas di wilayah berisiko, menjadi salah satu langkah pencegahan.
Masyarakat juga diimbau menghindari kontak langsung dengan unggas yang sakit atau mati mendadak karena berpotensi menularkan flu burung. Daging dan telur unggas tetap aman dikonsumsi selama dimasak hingga matang.
Sementara itu, antraks dapat menular melalui kontak dengan ternak yang terinfeksi maupun saat menangani bangkai hewan sakit. Karena itu masyarakat diminta tidak menyembelih atau mengonsumsi ternak yang sakit maupun mati mendadak, serta segera melaporkannya kepada Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan.
Program Manager Portal Kesehatan Masyarakat, dr. Basra Ahmad Amru, mengatakan kegiatan serupa juga digelar di sejumlah daerah lain sebagai upaya memperkuat koordinasi lintas sektor dalam menghadapi ancaman zoonosis.
“Jangan sampai ketika wabah penyakit muncul, kita tidak siap.”ungkapnya.
Sementara itu, Ketua Pokja RCCE Rizky Ika Syafitri menekankan pentingnya penyampaian informasi kesehatan yang benar kepada masyarakat. Ia menyebut semua elemen memiliki peran yang sangat penting dalam memastikan pesan kesehatan menjangkau seluruh lapisan masyarakat
“Masyarakat berhak mendapatkan informasi penting yang dapat menyelamatkan jiwa. Informasi yang akurat, menarik, dan mudah dipahami akan mendorong masyarakat menerapkan perilaku pencegahan,” tuturnya. (yog/bob)







