Air Mancur Alun-Alun Merdeka Malang Hanya Aktif di Malam Hari

Tampilan baru air mancur di Alun-alun Merdeka Kota Malang. (blok-a.com / M Berril Labiq)
Tampilan baru air mancur di Alun-alun Merdeka Kota Malang. (blok-a.com / M Berril Labiq)

Kota Malang, blok-a.com – Air mancur di Alun-Alun Merdeka Kota Malang kini tidak lagi aktif sepanjang hari. Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Malang membatasi pengoperasian fasilitas tersebut hanya pada jam tertentu.

Air mancur hanya dihidupkan mulai pukul 18.00 WIB hingga 21.00 WIB. Dalam rentang waktu tersebut, pengoperasiannya juga tidak berlangsung terus-menerus karena terdapat jeda antara waktu menyala dan padam.

Plh Kepala DLH Kota Malang, Gamaliel Raymond Hatigoran Matondang, mengatakan pembatasan tersebut bukan karena mesin air mancur masih mengalami kerusakan. Mesin pompa yang sebelumnya sempat rusak kini sudah diperbaiki dan kembali berfungsi normal.

“Ya, untuk pancuran di alun-alun sengaja kita hidupkan itu setelah jam 6 malam. Jadi jam 6 malam sampai jam 9. Untuk yang pagi-siang tidak kita hidupkan lagi,” kata Raymond, Rabu (12/8/2026).

Raymond menjelaskan, pembatasan operasional berkaitan dengan sistem sirkulasi air yang digunakan pada air mancur. Air yang dipancurkan akan turun kembali ke penampungan dan kemudian digunakan lagi.

Menurutnya, air tersebut tidak langsung melalui proses pengolahan atau penyaringan sebelum kembali dipancurkan. Kondisi itu menjadi salah satu pertimbangan DLH untuk membatasi aktivitas masyarakat di dalam air mancur.

“Karena memang kondisinya air yang dipancurkan itu adalah air yang turun dari hasil pancuran. Jadi tidak ada pengolahan atau saringan langsung untuk air yang dimunculkan lagi,” jelasnya.

Sebelumnya, ketika air mancur dibuka mulai pagi hingga malam, banyak anak-anak yang memanfaatkannya untuk bermain dan mandi. Raymond menyebut, kondisi tersebut menjadi persoalan karena ada anak-anak yang bahkan buang air kecil di sekitar area air mancur.

Air yang telah tercampur kemudian kembali masuk ke dalam penampungan dan dipancurkan lagi. Setelah itu, DLH menerima sejumlah laporan terkait anak-anak yang mengalami gatal-gatal.

“Yang pertama kemarin pada waktu kita buka pagi sampai malam itu, banyak anak-anak yang mandi. Namanya anak-anak mandi-mandi, kita tidak bisa melarang, kebanyakan mereka ada yang mohon maaf ya, yang buang air kecil di sana, pipis di sana, sehingga airnya itu turun ke dalam penampungan dan itu disemprotkan kembali,” ujarnya.

Untuk menjaga kondisi air, DLH melakukan penggantian air secara berkala menggunakan air PDAM. Penggantian dilakukan dalam rentang sekitar tiga hari hingga satu minggu, tergantung kondisi air di dalam penampungan.

Raymond menegaskan, meski air mancur kembali aktif pada malam hari, masyarakat tetap dilarang mandi di fasilitas tersebut. DLH juga telah memasang tulisan larangan mandi di sekitar lokasi.

“Yang boleh ya cuma untuk menikmati aja. Untuk hidupnya setelah jam 6 sore sampai jam 9 malam. Itu pun tetap jeda waktu ada jeda waktu untuk hidup sama padamnya,” tuturnya.

Selain untuk menjaga kualitas air, pembatasan waktu operasional juga dilakukan untuk mengantisipasi kerusakan mesin. Sebelumnya, pompa air mancur sempat mengalami kerusakan setelah terendam banjir akibat hujan deras.

Mesin tersebut kemudian diperbaiki hingga kembali normal. Namun, Raymond mengatakan biaya perbaikan mesin cukup besar sehingga pengoperasian air mancur perlu diatur agar kerusakan serupa tidak kembali terjadi.

“Karena kemarin pada waktu terjadi pas sebelum musim kemarau, sempat musim hujan lebat, ada kebanjiran, kebetulan mesin pompa itu rusak karena terendam oleh air. Wis kita perbaiki dan untuk perbaikannya lumayan,” katanya.

Saat ini, air mancur lebih diarahkan sebagai bagian dari fasilitas pendukung estetika Alun-Alun Merdeka. Terutama pada malam hari, pancuran dan permainan lampu menjadi salah satu daya tarik bagi pengunjung untuk menikmati suasana maupun mengambil foto.

Raymond mengatakan, DLH masih melakukan evaluasi terkait pola pengoperasian air mancur. Pengaturan jadwal juga dapat disesuaikan untuk momen-momen tertentu.

“Iya, tetapi istilahnya kebanyakan kan dibuat untuk spot foto, melihat lampu-lampu yang malam hari. Nggih, itu lebih apa untuk momen-momen tertentu nanti kami masih mencoba untuk mengatur jadwalnya,” ungkapnya.

Terkait kemungkinan air mancur digunakan untuk mandi, Raymond menyebut hal tersebut belum diperbolehkan. DLH masih melakukan evaluasi setelah sebelumnya terjadi kerusakan pada sistem pompa.

“Apakah boleh dibuat mandi atau belum, karena ini juga masih percobaan setelah kemarin ada kerusakan,” ujarnya.

Sementara itu, terkait kemungkinan penggunaan sumber air sendiri agar air mancur dapat beroperasi lebih lama, Raymond mengatakan hal tersebut tidak dapat dilakukan karena Pemkot Malang tidak diperbolehkan menggunakan air tanah.

Sistem air mancur saat ini menggunakan air PDAM yang ditampung kemudian disirkulasikan kembali. Jika dioperasikan terus-menerus, kebutuhan listrik untuk menjalankan pompa juga akan semakin besar.

“Sistem penampungannya itu memang air setelah turun di penampungan, terus dimunculkan kembali. Kalau terus-menerus itu lumayan, Mas, listriknya juga. Kan ngambil airnya kan dari air bawah tanah, sedangkan kita kan tidak boleh menggunakan air bawah tanah. Jadi yang kita yang kita gunakan adalah air PDAM,” pungkasnya. (bob)

Exit mobile version