Bahu Jalan Kawasan Watugong Jadi Parkiran Motor Dadakan, Ada Apa?

Parkiran dadakan di kawasan Jl Watugong, Kota Malang. (dok. Tim Internship blok-a.com)
Parkiran dadakan di kawasan Jl Watugong, Kota Malang. (dok. Tim Internship blok-a.com/Arif)

Kota Malang, blok-a.com – Belum genap sebulan Kota Malang punya julukan baru: ‘Malang Kota Parkir’. Jargon tersebut sempat viral di media sosial, khususnya TikTok, pada sekitar akhir Oktober lalu.

Video TikTok itu mengungkapkan keresahan pemilik kendaraan yang harus rela menyisihkan dana lebih untuk parkir, minimal Rp6.000,- setiap harinya. Di mana, hal serupa juga dirasakan oleh sebagian besar masyarakat pemilik kendaraan bermotor, khususnya di Kota Malang.

Masih dalam konteks yang sama, blok-a.com juga sempat menyinggung sejumlah keresahan lain seputar fenomena parkir. Di antaranya parkir liar di sekitar Pasar Gadang yang kerap menyebabkan kemacetan.
Lalu, satu lagi yang juga sempat menuai polemik, yakni isu tentang tempat parkir booking-an di Kayutangan Heritage.

Agaknya persoalan parkir ini menjadi sorotan banyak pihak. Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Malang juga telah mengusahakan berbagai cara untuk melakukan penertiban parkir kendaraan. Meski demikian, sampai saat ini belum ditemukan solusi jitu guna mengatasi persoalan ini.

Watugong Jadi Parkiran Dadakan

Setidaknya dalam jangka waktu 5-6 bulan setiap tahunnya, sejumlah titik di kawasan Jl. Watugong, Kelurahan Ketawanggede, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang menjadi lokasi parkir dadakan.

Kendaraan roda dua terlihat memenuhi bahu jalan selebar kurang lebih empat meter. Salah satu yang paling mencolok terlihat tepat di pertigaan antara Jl. Watumujur 1, Jl. Kertopamuji, dan Jl. Watugong 2. Juga di Jl. Kertosentono yang berada pada jalur pintu gerbang sebelah barat Universitas Brawijaya (UB). Memang, kawasan Watugong berbatasan langsung dengan pintu keluar masuk bagian barat kampus biru.

Berdasarkan pengamatan blok-a.com, diketahui bahwa deretan motor yang memenuhi bahu jalan kawasan tersebut, sebagian besar adalah milik para mahasiswa baru (maba) Universitas Brawijaya Malang.

Universitas Brawijaya sendiri sudah sejak lama menerapkan aturan khusus soal kendaraan bagi setiap mahasiswa baru. Mereka tidak diperkenankan membawa kendaraan pribadi dan memarkirkannya di dalam area kampus.

Tim blok-a.com melakukan penelusuran lebih lanjut, hingga menemukan kesimpulan awal bahwa aturan tersebut mulai berlaku sejak tahun 2014 dan terus diperbarui setiap tahunnya.

“Dalam rangka menjaga ketertiban dan kenyamanan berlalu lintas di dalam kampus, perlu pengaturan parkir dan arus lalu lintas kendaraan dalam kampus. Sehubungan dengan hal tersebut, kepada mahasiswa baru dilarang membawa dan memarkir kendaraan di dalam kampus selama 1 (satu) semester pada semester pertama,” demikian isi dari Surat Edaran yang dikutip dari laman resmi kampus UB.

Selain lewat Surat Edaran, imbauan tentang larangan membawa kendaraan pribadi juga tertera di buku saku maba. Disertai dengan penjelasan sejumlah sanksi sebagai konsekuensi, jika diketahui ada mahasiswa baru yang nekat memarkirkan motor di dalam kampus.

Aturan ini diterapkan sejak masa Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) Universitas Brawijaya. Dan seperti diketahui, masa pengenalan kehidupan kampus UB berlangsung selama satu semester atau enam bulan.

Seperti dikutip dari Buku Panduan PKKMB Fakultas Ilmu Komputer (FILKOM) UB Tahun 2023. Pada bab Tata Tertib PKKMB poin nomor 24, tercantum aturan yang berbunyi:

Dilarang diantar/membawa kendaraan pribadi memasuki area PKKMB dan Startup Academy 2023 dalam radius yang telah ditentukan, ketentuan area atau radius adalah sebagai berikut:
a. Batas Utara: Gerbang Soekarno Hatta (Jembatan Soekarno Hatta)
b. Batas Selatan: Gerbang Veteran I (Gerbang Utama Universitas Brawijaya)

Aturan poin 24 termasuk kategori tingkat sedang dengan poin pelanggaran sebesar 20. Kabarnya, sanksi paling berat bagi maba yang kedapatan melanggar aturan ini, mereka harus mengikuti PKKMB kembali pada tahun ajaran berikutnya.

Pro Kontra

Fenomena parkiran dadakan ini menjadi ladang penghasilan baru bagi warga. Beberapa warga ditugaskan menjadi penjaga parkir yang diikordinasikan langsung oleh RT setempat.

Informasi yang dihimpun, pendapatan parkiran dadakan ini di kisaran Rp800.000 per hari. Total penghasilan parkir selanjutnya diserahkan ke RT setempat sebesar Rp25.000, sementara sisanya dibagikan untuk 8 petugas jaga.

“Ini hasil rapat RT dengan warga. Memang kalau dari kita sendiri tanpa ada kesepakatan kita tidak berani,” ucap Pandu, salah satu petugas parkir Jl. Watugong RT 08 RW 02.

Untuk tarif parkir bervariasi, mulai dari Rp3.000 hingga Rp5.000. Tergantung durasi hingga lokasi parkirannya.

Meski begitu, tak sedikit pula warga yang mengeluh karena merasa terganggu, terutama jika kendaraan parkir tengah membeludak. Jalanan yang menjadi akses utama warga tersebut menjadi macet.

“Kalau saya sih memang sebenarnya agak terganggu ya. Cuma menurut saya selama mahasiswa tidak memarkirkan kendaraannya sembarangan itu masih aman. Apalagi ada petugas yang mengatur parkirannya biar nggak semrawut,” kata Ido, warga sekitar. 

Keluhan serupa juga disampaikan mahasiswa yang kos di sekitar lokasi parkiran.

“Bisa dibilang fenomena negatif sih, soalnya kalau pas parkirannya kelebihan kapasitas bikin macet,” kata salah satu penghuni kos yang enggan disebut namanya. 

Belum lagi, mahasiswa pejalan kaki yang merasa kesulitan mengakses jalanan yang dipadati motor.

“Pejalan kaki juga terdampak, karena sulit akses jalannya. Apalagi kadang macet juga, jalanan jadi sempit, takut keserempet mobil yang lewat,” kata salah satu mahasiswa baru, CT. 

Saat ini, lokasi parkiran memang tak seberapa padat. Pasalnya, banyak opsi tempat parkir dengan harga yang dianggap lebih bersahabat di kantong mahasiswa. Namun di jam-jam tertentu, parkiran bisa mendadak penuh kembali. (int/gni/lio)