DPRD Kota Malang Soroti Kasus Mahasiswa Bunuh Diri, Kampus Diminta Lakukan Screening Mental

DPRD Kota Malang Soroti Kasus Mahasiswa Bunuh Diri, Kampus Diminta Lakukan Screening Mental
Ketua Komisi A DPRD Kota Malang, Lely Thresiyawati (blok-a/Bob Bimantara Leander)

Kota Malang, blok-a.com – DPRD Kota Malang menyoroti maraknya kasus percobaan bunuh diri yang melibatkan kalangan mahasiswa di Kota Malang. Menyikapi kondisi tersebut, DPRD meminta perguruan tinggi untuk mulai melakukan screening kesehatan mental calon mahasiswa baru (maba) dalam proses seleksi masuk.

Ketua Komisi A DPRD Kota Malang, Lely Thresiyawati, menilai fenomena tersebut harus menjadi perhatian serius, terlebih Kota Malang dikenal luas sebagai kota pendidikan dengan puluhan kampus dan ratusan ribu mahasiswa.

“Baru-baru ini ada lagi percobaan bunuh diri di Jembatan Suhat. Sebelumnya juga sudah pernah terjadi. Ini harus dievaluasi bersama, apalagi sebagian besar pelakunya mahasiswa dan banyak berasal dari luar Kota Malang,” ujar Lely, Selasa (20/1/2026).

Ia menyebut, sejumlah titik yang kerap menjadi lokasi percobaan bunuh diri seperti Jembatan Soekarno Hatta (Suhat) dan Jembatan Tunggulmas memang telah dipasangi pagar pengaman. Namun menurutnya, langkah fisik tersebut perlu dibarengi dengan upaya pencegahan dari hulu.

“Sosialisasi kesehatan mental ke kampus-kampus harus dilakukan secara masif. Karena selama ini yang terlibat dalam percobaan bunuh diri mayoritas mahasiswa,” ungkapnya.

Lely menegaskan akan terus mengawal persoalan ini dan mendorong evaluasi menyeluruh untuk mengetahui akar permasalahan yang dihadapi mahasiswa.

“Saya akan terus mengawal dan mengevaluasi, sebenarnya apa yang menjadi penyebab banyaknya mahasiswa melakukan percobaan bunuh diri di Kota Malang,” imbuhnya.

Lebih lanjut, ia mendorong agar kampus-kampus di Kota Malang mulai menerapkan screening kesehatan mental bagi calon mahasiswa baru sejak awal seleksi masuk perguruan tinggi. Langkah ini, menurutnya, sejalan dengan rekomendasi para psikolog, termasuk dari Universitas Islam Negeri (UIN) Malang.

“Saya sangat setuju. Sebelum mahasiswa diterima, perlu ada screening kesehatan mental. Dengan begitu, penanganannya bisa lebih dini dan Kota Malang menjadi lebih aman,” tuturnya.

Menurut Lely, screening kesehatan mental penting untuk memetakan potensi gangguan psikologis, termasuk gejala traumatik yang mungkin dialami calon mahasiswa. Dengan penanganan yang tepat sejak awal, risiko terjadinya percobaan bunuh diri dapat diminimalkan.

Selain screening, ia juga meminta seluruh kampus di Malang untuk memberikan edukasi kesehatan mental kepada mahasiswanya secara berkelanjutan. Diketahui, Kota Malang memiliki sekitar 68 perguruan tinggi dengan jumlah mahasiswa mencapai ratusan ribu orang.

“Dalam waktu dekat kami akan turun langsung ke kampus-kampus. Ini menyangkut keselamatan anak-anak kita,” tegasnya.

Ia juga mengingatkan agar kampus tidak mempersulit mahasiswa dalam mengakses layanan pendampingan psikologis.

“Jangan mempersulit mahasiswa. Orang tua sudah berjuang menyekolahkan anaknya, tapi kondisi yang kita lihat sekarang cukup memprihatinkan,” tandas Lely. (bob)

Exit mobile version