Kota Malang, blok-a.com – Pemerintah Indonesia terus memperkuat upaya Pengurangan Risiko Bencana (PRB) dengan mengedepankan pendekatan pencegahan melalui Program Desa Tangguh Bencana (Destana). Program tersebut menjadi bagian dari transformasi penanggulangan bencana yang tidak lagi berfokus pada penanganan pascabencana, melainkan memperkuat kesiapsiagaan masyarakat sejak dini.
Penguatan ketangguhan masyarakat itu diwujudkan melalui Program Destana di Provinsi Jawa Timur yang dilaksanakan oleh konsorsium KONDUSIF. Konsorsium tersebut terdiri atas Lembaga Pengkajian Kemasyarakatan dan Pembangunan (LPKP) Jawa Timur, Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Provinsi Jawa Timur, serta Yayasan Insan Sejahtera Indonesia (YISI) Kabupaten Pasuruan.
Program yang dimulai sejak Mei 2025 itu telah berjalan di 10 desa dampingan yang tersebar di Kabupaten Lumajang, Malang, Pasuruan, Pacitan, dan Sampang. Berbagai capaian pelaksanaan program dipaparkan dalam Lokakarya Pembelajaran Praktik Baik Destana dan Integrasinya dalam Sistem Perencanaan dan Penganggaran Desa yang digelar di Hotel Arya Gajayana, Kota Malang, pada 4–5 Agustus 2026.
Secara konseptual, Destana merupakan desa atau kelurahan yang memiliki kemampuan mandiri dalam mengenali ancaman, beradaptasi, menghadapi bencana, hingga memulihkan diri setelah bencana terjadi. Konsep tersebut mengacu pada Peraturan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Nomor 7 Tahun 2025 tentang Desa dan Kelurahan Tangguh Bencana.
Kepala BNPB, Letjen TNI Dr. Suharyanto, menyampaikan investasi pada upaya pencegahan jauh lebih efektif dibandingkan biaya penanganan setelah bencana.
“Investasi pada upaya pencegahan sebelum bencana terjadi memberikan manfaat yang jauh lebih besar dibandingkan biaya penanganan setelah bencana,” ucap Suharyanto.
Ia menambahkan, program seperti Destana menjadi langkah strategis untuk mengurangi risiko korban jiwa, kerugian harta benda, serta dampak sosial dan ekonomi akibat bencana.
Sementara itu, First Secretary for Humanitarian Kedutaan Australia di Jakarta, Catherine Meehan, menilai keberhasilan penguatan ketangguhan masyarakat sangat bergantung pada keterlibatan komunitas dan integrasi program dalam pembangunan desa.
“Ketangguhan dapat tercapai bila berbasis komunitas dan menjadi bagian dari pembangunan desa, dan ada dokumentasi untuk menjadi praktik baik sebagai pembelajaran bagi daerah lain,” terangnya.
Lokakarya tersebut juga menjadi wadah untuk mendokumentasikan berbagai inovasi, pengalaman, dan praktik baik yang lahir dari implementasi Program Destana yang didukung Program SIAP SIAGA. Hasil pembelajaran itu diharapkan dapat direplikasi dan dikembangkan di daerah lain yang memiliki karakteristik risiko bencana serupa, sekaligus memperkuat sistem pengurangan risiko bencana dan ketangguhan masyarakat di tingkat daerah maupun nasional. (yog/bob)




