Kota Malang, blok-a.com – Suasana berbeda terasa di Lapas Kelas I Malang pada Senin (16/3/2026) sore. Menjelang waktu berbuka, ratusan keluarga memadati area kunjungan demi satu tujuan sederhana: melepas rindu dengan orang terkasih yang tengah menjalani masa pembinaan.
Sejak pukul 15.00 WIB, antrean pengunjung sudah mengular di ruang pendaftaran. Satu per satu mereka membawa bekal dari rumah—hidangan berbuka yang nantinya disantap bersama di dalam lapas. Sebelum masuk, petugas melakukan pemeriksaan makanan serta verifikasi data pengunjung untuk memastikan seluruh proses berjalan aman dan tertib.
Memasuki waktu kunjungan pukul 15.30 WIB, suasana berubah hangat. Senyum, sapa, hingga pelukan menjadi pemandangan yang tak terhindarkan. Hingga pukul 17.00 WIB, tercatat sekitar 180 nomor antrean terlayani—mewakili lebih dari 350 orang yang memanfaatkan momen buka puasa bersama tersebut.
Di balik tembok tinggi dan jeruji besi, Ramadan tetap menghadirkan rasa yang sama: kebersamaan. Warga binaan tampak duduk berhadap-hadapan dengan keluarga, menikmati hidangan sederhana yang dibawa dari rumah. Bagi mereka, ini bukan sekadar makan bersama, tapi kesempatan langka untuk mengobati rindu.
Kepala Lapas Kelas I Malang, Teguh Pamuji, turut memantau langsung jalannya kegiatan. Ia menyebut layanan ini sebagai bagian dari upaya menghadirkan pendekatan yang lebih humanis di lingkungan pemasyarakatan.
“Alhamdulillah kegiatan kunjungan sekaligus buka puasa bersama hari ini berjalan lancar. Ini adalah bentuk pelayanan kami agar warga binaan tetap bisa merasakan kebersamaan dengan keluarga, khususnya di bulan Ramadan,” ujarnya.
Hal senada disampaikan Kepala Kesatuan Pengamanan Lapas (KPLP), Eksa Rahnuzulian. Ia memastikan seluruh rangkaian kegiatan berlangsung kondusif dengan pengawasan petugas.
“Momentum seperti ini kami harapkan bisa menjadi penyemangat bagi warga binaan untuk terus mengikuti pembinaan dengan baik,” katanya.
Di tengah keterbatasan ruang dan waktu, Ramadan di Lapas Malang justru menghadirkan makna yang lebih dalam. Bukan soal di mana berbuka, tapi dengan siapa momen itu dijalani. Di balik jeruji, hangatnya keluarga tetap menemukan jalannya.




