Mural “Malang The Glory Land” Ditimpa, Maknanya Lebih dari Sekadar Tulisan di Dinding

Pengecatan mural “Malang Menyala Bersama” yang menghapus “Malang The Glory Land” di Jalan Arif Rahman Hakim, Kelurahan Kauman, Kecamatan Klojen, Kota Malang, Kamis (20/8/2026) (blok-a/Bob Bimantara Leander)
Pengecatan mural “Malang Menyala Bersama” yang menghapus “Malang The Glory Land” di Jalan Arif Rahman Hakim, Kelurahan Kauman, Kecamatan Klojen, Kota Malang, Kamis (20/8/2026) (blok-a/Bob Bimantara Leander)

Kota Malang, blok-a.com – Mural bertuliskan “Malang The Glory Land” yang kini tertutup mural “Malang Menyala Bersama”, ternyata menyimpan cerita panjang tentang persatuan dan harapan terhadap Kota Malang.

Bagi Andi F. Sinyo, warga Malang sekaligus Aremania yang mengaku bersahabat dengan almarhum Heri Sucahyo alias Sam Nyek, mural yang dibuat sekitar 2016 itu bukan sekadar karya bernuansa sepak bola. Ada pesan tentang Malang yang ingin disampaikan melalui pilihan kata tersebut.

Sinyo mengatakan, Sam Nyek dikenal kerap menyampaikan gagasan melalui simbol dan pemilihan diksi dalam karyanya. Karena itu, penggunaan kalimat “Malang The Glory Land” dinilai memiliki makna tersendiri.

Secara sederhana, kalimat tersebut dapat dimaknai sebagai Malang tanah kejayaan. Namun, konteks pembuatannya tidak bisa dilepaskan dari situasi Kota Malang ketika itu, termasuk konflik dualisme dalam sepak bola.

Menariknya, Sam Nyek tidak menggunakan nama Arema dalam mural tersebut. Ia justru memilih nama Malang sebagai identitas yang lebih luas.

“Kenapa nggak ditulis ‘Arema The Glory Land’? Dia memilih diksi ‘Malang’, timbang ‘Arema’,” ujar Sinyo, Jumat (20/8/2026).

Ia mengungkapkan, pilihan tersebut menunjukkan Sam Nyek berusaha melihat persoalan Malang melampaui batas klub sepak bola. Saat itu, sejumlah persoalan dinilai turut memecah masyarakat.

“Dia meletakkan egonya dan melihat kepentingan yang lebih luas. Malang ini sudah banyak peristiwa, banyak kejadian yang membuat semuanya pecah belah,” katanya.

Karena itu, mural tersebut dianggap membawa pesan agar masyarakat kembali membangun kebersamaan dan menghidupkan semangat kejayaan Kota Malang.

“Dia ingin spirit Malang itu kembali seperti dulu, Malang Tanah Kejayaan,” tuturnya.

Bagi Sinyo, pesan dalam mural tersebut bahkan dapat diterima masyarakat yang tidak memiliki ketertarikan terhadap sepak bola. Sebab, yang ditonjolkan bukan identitas klub, melainkan identitas kota.

“Pesannya buat wong Malang, ayo rukun. Ayo rukun karena Malang ini tanah kejayaan,” tandasnya.

Ia menilai penggunaan kata “Malang” justru menjadi kekuatan utama karya tersebut. Pesan yang disampaikan adalah bahwa kejayaan kota merupakan sesuatu yang harus diperjuangkan secara bersama-sama.

“Yang harus kita perjuangkan bersama,” imbuhnya.

Karena itu, Sinyo menyayangkan ketika mural tersebut kemudian ditimpa. Ia menyebut, yang hilang bukan sekadar tulisan di sebuah dinding, tetapi juga bagian dari memori dan pesan kultural yang pernah hadir di ruang publik.

Ia berharap polemik mengenai mural tersebut dapat menjadi pembelajaran agar karya seni di ruang publik tidak hanya dipandang dari bentuk visualnya. Menurutnya, sebuah karya juga memiliki latar belakang, sejarah, serta pesan yang melekat di dalamnya.

“Kecewa boleh. Tapi kita juga harus melihat bagaimana respons dan tanggung jawabnya,” pungkasnya. (yog)

Jurnalis yang bertugas di wilayah Malang Raya. Fokus peliputan pada isu sosial, politik, pemerintahan dan peristiwa terkini.