Pedagang Pentol di Kepanjen Kaget Masuk Desil 9 DTSEN, Omzet Kini Rp350 Ribu Sebulan

Pedagang Pentol di Kepanjen Kaget Masuk Desil 9 DTSEN, Omzet Kini Rp350 Ribu Sebulan
Anif Ashar, pedagang pentol di Kepanjen Kaget Masuk Desil 9 DTSEN (Istimewa)

Kabupaten Malang, blok-a.com – Anif Ashar (47), warga Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang, dibuat bingung setelah mengecek data tunggal sosial ekonomi nasional (DTSEN). Pedagang pentol tersebut tercatat berada di desil 9, yang menunjukkan kelompok masyarakat dengan tingkat kesejahteraan relatif tinggi.

Padahal, kondisi ekonomi Anif justru tengah mengalami penurunan. Sehari-hari ia hanya mengandalkan penghasilan dari berjualan pentol di garasi samping rumah.

Selain berdagang, Anif juga mengajar mengaji di sebuah pondok pesantren yang lokasinya tidak jauh dari rumah. Namun, aktivitas tersebut tidak memberikan penghasilan tetap.

“Kalau mengajar mengaji ya pendapatannya tidak tentu, yang penting ikhlas,” kata Anif, Jumat (21/8/2026).

Dari usaha pentol yang telah dijalankannya, omzet Anif kini hanya sekitar Rp350 ribu dalam sebulan. Kondisi itu jauh menurun dibandingkan sebelumnya ketika ia masih bisa menghabiskan modal kulakan hingga Rp1,4 juta setiap pekan.

“Kalau dulu pernah dapat banyak, setiap minggu bisa habis Rp 1,4 juta untuk kulakan, sekarang kulakannya sebulan sekali, itu pun hanya Rp 350 ribu,” ceritanya.

Menurut Anif, penurunan penjualan mulai terasa sejak program Makan Bergizi Gratis (MBG) berjalan. Anak-anak sekolah yang sebelumnya menjadi salah satu pangsa pasar utamanya kini disebut lebih jarang membeli jajanan di luar sekolah.

“Kan anak-anak itu kenyang dapat MBG, jadi jarang mau beli pentol,” ujarnya.

Meski kondisi usaha semakin sepi, Anif memilih tetap mempertahankan dagangannya. Ia mengaku tidak mudah berpindah profesi karena menurutnya kondisi usaha saat ini hampir sama di berbagai sektor.

“Mau jualan yang lain juga kondisinya sama, teman-teman banyak yang ngeluh juga jualannya tidak laku, jadi ya daripada harus buka pasar lagi saya telateni saja sedapatnya,” ungkapnya.

Kondisi tersebut membuat Anif semakin heran ketika mengetahui dirinya masuk dalam desil 9 DTSEN. Ia mengaku tidak bermaksud mengejar bantuan sosial dengan masuk kelompok desil rendah.

Namun, ia berharap data sosial ekonomi pemerintah benar-benar menggambarkan kondisi masyarakat di lapangan. Menurutnya, pemutakhiran data penting agar kondisi warga tidak keliru dipetakan.

“Saya tidak mengharap bantuan, tapi ya datanya yang betul, jangan diawur,” terangnya.

Anif sendiri menduga status desil 9 tersebut mungkin berkaitan dengan data lama yang pernah menggunakan identitasnya dalam transaksi jual beli mobil.

Ia mengaku beberapa kali pernah meminjamkan KTP kepada temannya untuk keperluan pembelian mobil. Namun, kondisi tersebut menurutnya tidak lagi menggambarkan keadaan ekonominya saat ini.

“Apa karena KTP saya pernah dipinjam untuk beli mobil, tapi itu dulu, sekarang nyatanya saya juga tidak punya mobil,” pungkasnya. (yog/bob)

Jurnalis yang bertugas di wilayah Malang Raya. Fokus peliputan pada isu sosial, politik, pemerintahan dan peristiwa terkini.
Redaktur pelaksana sekaligus Jurnalis blok-a.com yang memfokuskan liputan pada isu sosial, politik, dan peristiwa terkini di Malang Raya.