Kabupaten Malang, blok-a.com – Rencana pembangunan Alun-alun Kepanjen mengalami perubahan signifikan. Jika sebelumnya dirancang di dua titik, kini Pemerintah Kabupaten Malang memutuskan hanya akan membangun di satu lokasi.
Dua opsi lokasi yang masih dipertimbangkan berada di kawasan depan dan belakang Kantor Bupati Malang, Jalan Panji, Desa Panggungrejo, Kecamatan Kepanjen.
Kepala Bappeda Kabupaten Malang, Tomie Herawanto, menjelaskan masing-masing lokasi memiliki konsep berbeda. Jika dibangun di belakang kantor bupati, alun-alun akan difokuskan sebagai ruang terbuka hijau (RTH). Sementara jika di depan, konsepnya lebih kompleks dengan tambahan fasilitas komersial.
“Dalam waktu dekat akan kami tentukan pilihan lokasinya. Karena baik yang di depan maupun belakang, lahannya belum siap (belum ada pembebasan lahan),” kata Tomie.
Ia mengungkapkan, total kebutuhan anggaran untuk proyek tersebut diperkirakan mencapai Rp300 miliar, mencakup pembebasan lahan hingga pembangunan fisik.
Terkait pembiayaan, Pemkab Malang tengah menjajaki kerja sama dengan Bank Jatim. Skema yang disiapkan tidak hanya melalui pinjaman, tetapi juga membuka peluang kerja sama branding.
“Tidak mungkin nilai sebesar itu melalui CSR. Jadi mungkin ada kerja sama branding dengan mereka. Atau opsi lain juga ada kemungkinan kami pinjam ke Bank Jatim,” ujarnya.
Tomie menjelaskan, skema pembiayaan tersebut memiliki kemiripan dengan Kerja Sama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU). Dalam KPBU, pembangunan dibiayai pihak swasta dengan kompensasi tertentu dari pemerintah daerah. Sedangkan skema pinjaman mengharuskan adanya pembayaran cicilan setiap tahun.
Namun demikian, ia menegaskan masa pinjaman tidak boleh melampaui masa jabatan kepala daerah yang sedang menjabat.
“Jika masa kepemimpinan sisa empat tahun, maka masa pinjamannya tidak boleh melebihi jangka waktu tersebut,” jelasnya.
Saat ini, besaran cicilan masih belum dapat dipastikan karena tergantung pada bunga pinjaman yang akan disepakati.
Sebagai gambaran, lahan di depan Kantor Bupati Malang memiliki luas sekitar 8 hektare dan membentang hingga Jalan Sumedang. Sementara opsi di belakang hanya sekitar 3 hektare.
“Maketnya sudah jadi sejak lama. Namun nanti akan di-review kembali, memungkinkan atau tidaknya jika desain itu diterapkan. Kan ada kemungkinan branding dengan Bank Jatim, berarti kerja samanya ada potensi ekonomi,” pungkasnya. (yog/bob)








